Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DIJ Danang Samsurizal menuturkan pihak terus berkomunikasi dengan BMKG Jogjakarta. Hasil diketahi ada ancaman La Nina mendekati akhir 2021. Prediksi berlangsung sejak 18 Oktober 2021 hingga Februari 2022.
“BMKG memprediksi ancaman La Nina tahun ini memiliki intensitas lemah hingga sedang. Kewaspadaan tetap kami tingkatkan karena ancaman bisa terjadi sewaktu-waktu. Setidaknya apel ini membuktikan semua elemen sudah siap,” jelasnya ditemui usai apel kesiagsiagaan, Selasa (9/11).
Prediksi kondisi, lanjutnya, tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Berupa peningkatan curah hujan bulanan berkisar antara 20 persen hingga 70 persen. Imbasnya adalahpotensi memicu bencana hidrometeorologi.
BPBD DIJ mencatat beberapa kejadian selama 2021. Tercatat ada 107 bencana angin kencang, 214 kejadian tanah longsor, 2 kejadian banjir lahar dingin dan 8 banjir berskala kecil. Kondisi seperti ini kerap kali terjadi pada musim penghujan yaitu akhir tahun hingga awal tahun.
“Ini tentu perlu kerjasama semua unsur kerelawanan. Termasuk dari tingkat RT dan RW sebagai penanganan pertama. Upaya pencegahan dan penanggulangan memerlukan kolaborasi semua pihak,” katanya.
Dalam kesempatan ini, Danang juga mengingatkan potensi ancaman nyata. Berupa produksi sampah berlebih dari waktu ke waktu. Belum optimalnya pengolahan berimbas pada penumpukan sampah. Ditambah tingginya gaya konsumerisme masyarakat.
Datangnya pandemi Covid-19, juga menimbulkan masalah baru. Berupa menumpuknya sampah medis dan non medis. Salah satunya adalah masker sekali pakai. Tanpa disadari, masyarakat belum mengolah jenis sampah ini secara bijak.
“Sejak awal Oktober terlaporkan luapan air dari sungai dan drainase di perkampungan. Hal ini perlu disikapi dengan kesiapsiagaan supaya tidak menjadi permasalahan yang lebih rumit. Sehingga kesadaran masyarakat menjadi penting untuk berperan serta dalam mencegah terjadinya bencana,” ujarnya. (om10/dwi) Editor : Editor News