Kepala Dinas Pariwisata Kota Jogja Wahyu Hendratmoko mengatakan, seiring turun PPKM Level 2, FKW menjadi momentum untuk membangkitkan kembali 17 Kampung Wisata yang sudah berdiri dan sempat terpuruk akibat pandemi. Demi mewujudkan Jogja sebagai kota destinasi wisata.
“Ini sekaligus untuk menyiapkan teman-teman kampung wisata agar segera berkiprah dalam menerima wisatawan,” katanya usai membuka kegiatan FKW 2021 di Museum Perjuangan, Sabtu (6/11).
Festival yang digelar di 4 kuadran dengan waktu berbeda-beda itu mengambil tema 'Merti Teposlero' untuk mewujudkan orkestra harkat kehidupan masyarakat Kota Jogja. Diartikan, pola kehidupan orang Jogja selalu hidup saling berdampingan dan mengutamakan gotong royong. Membangun kembali jiwa kebersamaan dalam bermasyarakat.
Hal ini menjadi implementasi dari pengaplikasian FKW dengan konsep gandeng gendong, yang diharapkan dapat mendongkrak kunjungan di kampung wisata. “Tidak semua kampung wisata harus menerima wisatawan, tetapi ada produk-produk yang mereka hasilkan bisa kita kolaborasikan menjadi satu,” ujarnya.
Dicontohkan, wilayah Brontokusuman yang memiliki keunggulan batik dan kuliner. Maka produknya bisa dikolaborasikan dengan wilayah lain yang hanya memiliki keunggulan atraksi budaya. “Jadi saling membantu,” tandasnya.
Konsep gandeng gendong diperkuat lagi dengan adanya aplikasi Kamelia atau Kampung Wisata Melayani Melalui Aplikasi. Adalah sebuah aplikasi untuk memasarkan kampung wisata. Wisatawan dapat mengakses informasi, melakukan reservasi hingga melakukan pembayaran sesuai paket wisata yang dipilih.
Sebanyak 17 kampung wisata maupun secara total 30 kampung wisata seluruhnya sudah terintegrasi melalui Kamelia. “Dan ini adalah salah satu momentum kebangkitan Kota Jogja secara keseluruhan selaku destinasi wisata,” jelasnya.
Adapun 17 kampung wisata yang telah berdiri dan dipromosikan dalam FKW 2021 adalah kampung wisata Tamansari, Sosromenduran, Sekar Niti, Gedongkiwo, Dipowinatan, Rejowinangun, Warungboto, Cokrodingratan, Pandeyan, Pakualaman, Tahunan, Kauman, Prenggan, Dewo Bronto, Becak Maju, Sayidan, dan Purbayan.
Sementara masih ada 13 kampung wisata yang akan dibentuk pada akhir tahun mendatang. Nantinya Kota Jogja total memiliki 30 kampung wisata. “Output dari kampung wisata kan beda-beda, maka perlu kita kolaborasikan agar jadi produk wisata yang unggul. Kalau cuma satu wilayah yang maju, adanya cuma itu, tapi kalau ada varian produk yang lain akhirnya bisa jadi satu,” terangnya.
Kampung wisata di Jogja ini menyasar berbagai elemen, mulai anak-anak, keluarga, hingga ke wisatawan mancanegara. FKW 2021 hingga pekan depan ini diselenggarakan di empat lokasi yaitu di kampung wisata Dewo Bronto, Purbayan, Cokrodiningratan, dan Pakualaman.
Dengan alasan masih situasi pandemi, festival berlangsung secara hybrid dan pengambilan gambar yang kemudian diolah dalam tayangan secara virtual melalui kanal Youtube Dinas Pariwisata dan Pemkot Jogja. “Sebetulnya untuk pengambilan gambar saja, tapi ditayangkan keseluruhan melaui channel Youtube,” tambahnya.
Sementara, Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan, gelaran FKW mau tidak mau mulai mengajak masyarakat bisa merespons ketika destinasi wisata sudah mulai dibuka. Sebab, ini sebagai bentuk penanda pula bahwa Kota Jogja sudah siap menerima wisatawan. Maka masyarakat harus mulai mengkondisikan, seiring destinasi wisata dibuka tetapi dengan prokes yang dijalankan ketat.
“Festival kampung wisata adalah upaya bagaimana agar denyut wisata mulai menggeliat. Tugas kita bagaimana agar wisata bisa mendapatkan akses secara meluas bagi masyarakat. Nah, ini promosi saja bahwa Kota Jogja sudah siap menerima wisatawan,” katanya.
Dari 17 kampung wisata yang dipromosikan, HP menyebut semuanya memiliki karakter atau keunggulan yang berbeda-beda. Mulai keunikan alamnya, seni budaya, kuliner, kerajinan, dan masih banyak lainnya. Praktis, tidak semua kampung wisata layak menjadi sebuah destinasi wisata.
Namun, destinasi wisata itu ada lantaran juga disertai daya dukung atau kolaborasi dengan kampung wisata lain. Tugas Pemkot adlah menghidupkan agar destinasi-destinasi wisata tersebut bisa diintegrasikan dengan kekuatan di destinasi wisata lain. Maka kemudian dijadikan satu agar menjadi unggulan. (wia/laz) Editor : Editor Content