Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Live Demo agar Pengunjung Ada Gambaran Bikin Karya

Editor Content • Rabu, 3 November 2021 | 15:53 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Membahas seni kaca, akan familiar dengan kaca patri dan lukis kaca. Melalui kaca-kaca bekas, Ivan Bestari Minar Pradipta menghadirkan karya ‘anyaman’ kaca.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Mengenakan kaos berwarna merah, pria kelahiran 1982 itu juga memakai kaca mata hitam. Kedua tangannya sibuk menganyam kaca. Tangan kirinya menggenggam anyaman setengah rampung. Sementara tangan kanan mengulir potongan kaca padat.

Disatukan oleh pijar menyala dengan panas 1.000 sampai 1.200 derajat Celcius dalam pelukan. “Teknik yang saya gunakan ini namanya flameworking,” ujarnya dengan tetap fokus pada material kaca yang diayam Selasa (2/11).

Ivan, sapaan akrabnya, memang sengaja membawa meja kerjanya ke lokasi pameran. Dengan tajuk Belantara Kaca, belasan seni kaca karyanya terpajang di Sangkring Art Space, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Pameran ini terdedikasi untuk memperkenalkan glass art atau seni kaca. “Live demo ini agar pengunjung ada gambaran, bagaimana membuat karya seni kaca,” ujar praktisi yang telah bergelut seni kaca selama 10 tahun itu.

Photo
Photo


Pengenalan cara produksi seni kaca dirasa penting oleh ayah satu putri itu. Sebab, seni kaca di Indonesia belum populer. “Kaca sebagai seni rupa di Indonesia itu kayaknya tidak dikenal,” ucapnya.

Melalui pameran yang digelarnya, Ivan membagi pengalaman selama berkesenian kaca. Diharapkan itu membuka pengetahuan pengunjung. Ada semacam kesenian indah yang berasal dari barang bekas di sekitar.
“Ini loh kaca, bisa gunakan sebagai media seni rupa juga. Padahal material kaca biasa ketemu di mana-mana. Dari HP, kaca mata, jendela, lampu motor. Di mana-mana kita ketemu kaca,” sebutnya.

Untuk itu, Ivan menggelar pamerannya. Dia berharap, akan lebih banyak orang yang mengenal seni kaca. “Paling tidak dengan pameran ini dapat memperkenalkan kembali seni kaca. Jadi lebih bisa berkembang. Kalau pelakunya nambah, ya syukur. Istilahnya inovasi tidak bisa bergantung dengan satu orang,” cetusnya.

Berdasar pengalaman, lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Jogja itu kesulitan mendapat referensi tentang seni kaca. “Bisa dikatakan seni kaca di Indonesia tidak berkembang. Saya dulu S1 tugas akhir, cari referensi tentang kaca di Indonesia nggak ada. Kesulitan.

Pembahasan akademis tentang kaca belum banyak,” cecarnya.
Hal itu disayangkan Ivan. Pasalnya, seni kaya sebetulnya telah ada sejak ribuan tahun lalu. “Padahal ada artefak peninggalan budaya dari kaca dan diakui dunia buatan Indonesia, usianya sudah ribuan tahun. Di Museum Nasional ada,” ungkapnya.

Hal ini memicu rasa peranasaran Ivan. Mengapa seni kaca tidak berkembang. “Seperti terlupakan atau kurang mendapat dukungan,” keluhnya.
Untuk diketahui, Ivan mungkin satu-satunya seniman kaca di DIJ. Di mana hanya ada segelintir saja seniman kaca yang bertahan di Indonesia. “Seniman kaca di Indonesia masih tidak terlalu banyak,” ujarnya. (laz)

  Editor : Editor Content
#kaca patri #Live Demo