Usulan itu sebenarnya sudah diajukan oleh Pemprov DIJ sejak 2018 melalui surat bernomor 934/14984 kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. HB X menjelaskan Serangan Umum 1 Maret 1949 tidak hanya peristiwa lokal yang terjadi di Jogja saja tetapi sudah merupakan peristiwa nasional. Pada saat itu Indonesia sedang berupaya menegakkan kedaulatan bangsa terhadap agresi militer Belanda. "Karena jadi momentum penegakan kedaulatan bangsa terhadap agresi militer Belanda," kata HB X.
HB X menyatakan peringatan serangan umum 1 Maret telah diperingati oleh masyarakat DIJ setiap tahunnya. Dalam peringatan tidak hanya diikuti oleh panitia saja tetapi juga masyarakat DIJ secara luas.
Kepala Kundha Kabudayan atau Dinas Kebudayaan DIJ Dian Laksmi menambahkan, peristiwa sejarah Serangan Umum 1 Maret tidak hanya berdampak di DIJ saja tetapi juga berdampak hingga nasional bahkan Internasional. "Peristiwa sejarah ini membawa dampak baik itu secara Internasional dengan adanya pelaksanaan perundingan Meja Bundar setelah didesak oleh PBB saat mereka mengetahui Republik Indonesia masih mampu untuk menunjukkan keberadaannya dengan Serangan Umum 1 Maret tersebut," jelas dia.
Jika dilihat dari sisi Indonesia peristiwa ini menjadi pembuka jalan yang lebih besar bagi bersatunya pihak republik dengan pihak federalis, di antaranya Negara Indonesia Timur, Sumatera Timur, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Pasundan, yang tergabung ke dalam Majelis Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federaal Overleg -- BFO). "Oleh sebab adanya berita tentang Serangan Umum 1 Maret, para federalis dapat menyadari keadaan republik sesungguhnya dan mengubah pandangan mereka hingga memihak republik," ujar dia.
Dian juga menjelaskan, Serangan Umum 1 Maret 1949 mengambil peran penting dalam menunjukkan keberadaan Indonesia ke mata dunia Internasional di tengah gempuran Agresi Militer Belanda. "Peristiwa ini penting tidak hanya karena Tentara Nasional Indonesia telah berhasil mengalahkan tentara Belanda namun peristiwa ini merupakan wujud nyata dari semangat persatuan bangsa Indonesia untuk menegakkan kembali kedaulatan negara," jelasnya.
Tito Karnavian sendiri mengaku, sudah melakukan kajian internal. Prinsipnya Serangan Umum 1 Maret 1949 di DIJ adalah kejadian di pusat gravitasi kekuatan negara membuat mata dunia tertuju pada Indonesia. Serangan Umum 1 Maret juga bentuk nyata dari semangat persatuan bangsa Indonesia untuk menegakkan kembali kedaulatan negara pasca-proklamasi pada 17 Agustus 1945.
Mantan Kapolri itu menambahkan tidak semua daerah memahami peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, hal itu disebabkan karena adanya gelombang revolusi industri 4.0. serta demokratisasi yang berjalan. "Kita takut nanti kita lupa kembali ke sejarah padahal sejarah jadi dasar untuk mendirikan negara," ungkapnya.
Tito meminta Pemprov DIJ segera menyelesaikan naskah akademik dan hasil-hasil kanian, sehingga usulan tersebut bisa segera diajukan kepada Kementerian Sekretaris Negara. (kur/pra)
Editor : Editor Content