Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tembus Peringkat 16 Besar Dunia, Mengabdi di Mantan Klubnya

Editor Content • Jumat, 22 Oktober 2021 | 15:15 WIB
KREATIF: Mahasiswa UNY Nurhuda Ihram Faihan mengolah singkong menjadi kue sus, makanan kekinian. HUMAS UMY FOR RADAR JOGJA
KREATIF: Mahasiswa UNY Nurhuda Ihram Faihan mengolah singkong menjadi kue sus, makanan kekinian. HUMAS UMY FOR RADAR JOGJA
RADAR JOGJA - Dionysius Hayom Rumbaka adalah salah satu pebulutangkis terbaik yang pernah dilahirkan di DIJ. Hayom lahir di Kulonprogo, 22 Oktober 1988. Ia sempat lama menghuni tim nasional (Timnas). Setelah pensiun sebagai pemain tiga tahun lalu, apa kegiatannya saat ini?

HERY KURNIAWAN, JOGJA, Radar Jogja

Hayom sempat mengejutkan publik di awal kemunculannya sekitar 13 tahun lalu. Kala itu Hayom yang masih muda mampu bersaing dengan para pemain tunggal putra seniornya yang terbilang luar biasa.
Saat itu, Indonesia memang sedang diperkuat para pemain tunggal yang punya kualitas luar biasa. Sebut saja Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, dan Simon Santoso.

Selain itu di negara-negara pesaing Indonesia juga sedang menikmati masa emas para pemain tunggal putra mereka. Tiongkok misalnya, punya sosok Lin Dan, Chen Long, dan Bao Chunlai. Kemudian Malaysia ada Lee Chong Wei. Denmark masih diperkuat Peter Gade.

Jangan lupakan juga Thailand yang masih punya sosok Boonsak Ponsana. Hayom bersyukur bisa bersaing dengan para pemain hebat itu. Namun di sisi lain, ia juga merasa “sial”. Kendati demikian, ia sempat menembus peringkat 16 dunia. “Sepertinya saya ini lahir di generasi yang salah,” kata Hayom kepada Radar Jogja sembari tertawa.

Perjalanan karier Hayom tidak panjang. Ia harus pensiun dini di tahun 2018 atau saat usianya masih 30 tahun. Di usia itu, ia seharusnya ada di masa puncak karier sebagai seorang atlet. Namun, beragam cedera membuat Hayom harus mengambil pilihan sulit itu.

Selepas pensiun, ayah seorang putra ini tak mau jauh-jauh dari dunia bulutangkis. Ia langsung kembali ke tempat yang membesarkannya, PB Djarum. Di klub itu, Hayom kini berperan sebagai pelatih.

Menurutnya, kembali ke PB Djarum bukan hanya untuk menjalani profesi baru selepas gantung raket saja. Namun ia ingin mengabdi di klub legendaris asal Kudus itu. “Ya, saya ibaratnya ingin balas budi lah. Dulu kan saya sejak kecil di Djarum,” ungkapnya.

Di PB Djarum, Hayom mendapatkan tanggung jawab untuk melatih para pemain muda. Terutama mereka yang berusia di bawah usia 17 dan 19 tahun. Usia yang sebentar lagi akan memasuki usia profesional.

Menjadi pelatih memberikan tantangan tersendiri bagi Hayom. Menurutnya, kini ia harus bisa menahan ego agar apa yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh para pemain asuhannya. “Kalau dulu pas masih main itu, kita apalagi pemain tunggal kan memang harus egois,” kata peraih medali emas beregu SEA Games 2011 itu.

Belakangan, dunia olahraga Tanah Air dihebohkan dengan sanksi yang diberikan oleh lembaga anti doping dunia (WADA). Indonesia dihukum untuk sementara tidak boleh mengibarkan bendera Merah Putih di ajang olahraga internasional.

Terbaru, timnas bulutangkis putra yang menjuarai Piala Thomas 2020 merasakan dampaknya. Mereka yang berhasil menjadi juara harus menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan menghadap kepada bendera PBSI. Hayom pun menyayangkan kejadian itu. “Ya, saya menyesalkan, tapi memang aturan di dunia olahraga seperti itu, harus dipatuhi,” tandasnya. (laz) Editor : Editor Content
#Timnas #Jogja