Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sekolah di Kota Jogja Mulai PTM Terbatas, Maksimal 3 Jam Perhari

Editor News • Senin, 20 September 2021 | 20:19 WIB
SEDANG: Siswa-siswi SMPN 5 Jogja sedang mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Sejumlah sekolah di Kota Jogja sudah memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Baik di jenjang SMP maupun SMA. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
SEDANG: Siswa-siswi SMPN 5 Jogja sedang mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Sejumlah sekolah di Kota Jogja sudah memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Baik di jenjang SMP maupun SMA. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Sejumlah sekolah di Kota Jogja sudah memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Baik di jenjang SMP maupun SMA. Penerapan PTM bukan lagi simulasi namun sudah ke permanen dengan evaluatif.

Salah satunya adalah SMPN 5 Jogja. Secara resmi sekolah ini menerapkan PTM per Senin (20/9). Skemanya adalah maksimal 3 jam pelajaran dengan kapasitas 50 persen. Total ada 6 mata pelajaran perharinya.

"Sudah bukan simulasi lagi tapi kebijakan dari Pemkot untuk mulai dibuka sekolah di kota Jogja. Dengan persyaratan minimal 80 persen siswa guru dan karyawan sudah vaksinasi. Permata pelajaran durasinya 30 menit," jelas Plt Kepala SMPN 5 Jogja Retna Wuryaningsih ditemui di sekolah, Senin (20/8).

Skema pembelajaran, lanjutnya, tak sepenuhnya berlangsung PTM. Untuk 50 persen sisanya menjalani pembelajaran dari rumah atau daring. Waktunya bersamaan dengan PTM di sekolah.

Selama PTM, kapasitas perkelas dibagi menjadi 50 persen. Setiap bangku hanya diduduki oleh satu siswa. Masker wajib dikenakan selama proses PTM berlangsung.

"Yang masuk hari ini 50 persen separuh dari kelas VII VIII dan IX. 50 persen lainnya PJJ (pembelajaran jarak jauh) dari rumah untuk besok pagi bergantian hadir di sekolah. Dalam waktu bersamaan untuk belajar luring dan daring," katanya.

Retna menegaskan keputusan PTM tetap berada di tangan orangtua. Siswa dapat berangkat ke sekolah apabila mendapatkan ijin dari orangtua. Setiap siswa yang berangkat wajib membawa surat pernyataan dari orangtua atau wali.

Para siswa juga terlebih dahulu menjalani proses screening. Berupa pelacakan kontak interaksi selama beraktivitas. Selain itu juga mencantumkan keberangkatan dengan kendaraan pribadi atau transportasi publik.

"Perijinan dari orangtua dalam bentuk surat pernyataan siswa sudah diijinkan hadir ke sekolah. Ini bukan simulasi tapi jadi peradaban baru. Dari anak masuk sampai pulang dituangkan dalam SOP (standar operasional prosedur)," ujar Plt Kepala SMPN 5 Jogja Retna Wuryaningsih.

Retna memaparkan 874 dari 995 siswa SMPN 5 Jogja telah tervaksinasi. Capaian ini telah melebihi batas minimal yaitu 87,7 persen. Ketentuan dari Surat Edaran Gubernur sebesar 80 persen. Sementara untuk 54 guru dan karyawan telah tervaksinasi.

Walau begitu, Retna menegaskan vaksinasi bukan syarat untuk hadir PTM. Siswa yang belum mendapat vaksin tetap bisa datang ke sekolah. Tercatat ada 121 siswa yang belum mendapatkan vaksin Covid-19.

"Vaksinasi bukan menjadi syarat untuk hadir PTM. Misal ada yang usia belum 12 tahun, ada yang isoman atau sakit. Ini tidak menjadi syarat, paling penting adalah ijin dari orangtuanya," kata Retna Wuryaningsih.

Selama PTM, siswa juga wajib mematuhi sejumlah aturan. Mulai dari tidak boleh berkerumun hingga berbagi makanan. Siswa, lanjutnya, disarankan membawa bekal secukupnya dari rumah. Kantin sekolah juga tidak buka selama PTM terbatas.

Pihaknya juga berkoordinasi dengan komite sekolah dan para orangtua. Terkait pengantaran dan penjemputan siswa di sekolah. Guna mengantisipasi munculnya kerumunan dalam rentang waktu tersebut.

"Tidak boleh berbagi dengan temannya. Kalau mau makan bergiliran, minta ijin ke gurunya.  Tidak mengajak temannya karena memang tidak ada waktu istirahat. Selesai makan langsung masuk kelas lagi," ujar Plt Kepala SMPN 5 Jogja Retna Wuryaningsih.

Ketua Komite SMPN 5 Jogja, Supriyono memastikan ada pengawasan rutin. Untuk PTM terbatas perdana selama sepekan kedepan. Evaluasi berlangsung setiap harinya seusai PTM berakhir.

Untuk skema selanjutnya berjalan secara periodik. Pengawasan berlangsung pada hari-hari tertentu. Guna memastikan Protokol Kesehatan berlaku ketat selama PTM terbatas.

"Kami melihat saat ini belum terbentuk pola komunikasi masih asing. Kalau untuk sekarang yang kelas VII dan VIII kan baru pertama bertemu. Khawatirnya 2 sampai 3 Minggu kedepan sudah akrab dan prokesnya bisa lalai," kata Supriyono. (dwi/sky) Editor : Editor News
#KBM Tatap Muka #smp n 5 kota jogja