Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mendunia Seiring Drakor dan K-Pop

Editor Content • Sabtu, 28 Agustus 2021 | 15:02 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Bagi penonton setia drama Korea (drakor), pasti tak asing lagi dengan berbagai macam makanan Korea. Mulai dari street food atau ala kaki lima hingga makanan berat. Ya, Korean food semakin mendunia seiring tingginya rating penayangan drakor hingga di Indonesia maupun maraknya Boyband asal Negeri Ginseng itu.

Pengamat kuliner, Chef Jawel Husin mengatakan, fenomena maraknya Korean street food khususnya di Indonesia menjadi wujud keberhasilan kampanye Korea Selatan dalam mempromosikan semua hal, budaya dan kuliner itu sendiri. “Kita tidak bisa membendung budaya asing karena mereka tidak punya hal lain dengan mempromosikan semuanya, mulai K-Pop, boyband dan segala macam. Tapi unsur campaign itu tidak dilihat dari kampanyenya saja,” katanya kepada Radar Jogja kemarin (27/8).

Seorang Chef Explorasa Nusantara ini menjelaskan, Korea memiliki pola promosi yang sangat baik. Bagaimana dalam mempromosikan suatu budaya maupun kuliner dibungkus dalam satu paket yang bisa menarik banyak orang, termasuk masyarakat Indonesia. Dicontohkan, dalam satu tayangan tren drakor yang sedang mendunia, selain adegan yang dimainkan pasti akan diselipkan makanan mereka yang khas. “Kalau dilihat dari segi pertumbuhan ekonomi, ini sebuah ranah positif," ujarnya.

Artinya, banyak pelaku usaha memanfaatkan dalam momen itu untuk mencari keuntungan. Meskipun tidak pernah bisa menyerupai makanan Korea asli. Menurutnya, tetap saja ketika makanan asing itu masuk ke Indonesia, rasanya akan berubah dan menyesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Hanya, bentuk dan namanya saja menyerupai.

“Rasa orisinilnya Korean food di kaki lima agak berbeda dengan di Korsel asli tentunya. Karena tetap ada yang disesuaikan dengan lidah. Kalau yang mau rasa agak asli, di kelas-kelas atas,” jelasnya.

Dia menyebut, karena tren kuliner ini polanya ada yang memang bahan berasal di negara tersebut dan dari Indonesia tidak ada. Hal itu yang biasanya menjadi langka. “Kenapa rasa tetap akan berubah, karena satu atau dua pasti bahan baku ada yang kurang. Ketika ada yang kurang pasti akan menyesuaikan. Karena rasa itu kan cuma di situ aja, ada asin manis asem tinggal nyari aja. Kalau nggak ada saos spesialis Korea, ya kasihlah saos tomat Indonesia yang lebih asemkan, misalnya gitu,” terangnya.

Sisi positifnya karena bisa elaborasi kuliner. Tapi ada sisi negatifnya, dikhawatirkan ketika anak-anak kekinian lebih memahami makanan Korea daripada makanan lokal Indonesia. Di sini peran orang tua dan anak muda itu sendiri untuk turut menyeimbangkan dan memperkenalkan jajan lokal pasar tradisional kepada mereka. “Proud of kuliner lokal khawatirnya kan kadang kurang. Makanya perlu kita seimbangkan,” tambahnya. (wia/laz) Editor : Editor Content
#drakor #k-pop #Korean food