Setibanya di selter, Luhut menyempatkan berkomunikasi dengan para pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi. Komunikasi dilakukan berjarak di kawasan non-infeksius sekitar 75 meter ke arah beberapa pasien yang berada di halaman selter menggunakan pengeras suara.
“Saya datang ke sini, presiden meminta memastikan bahwa bapak ibu diurus dengan baik oleh pemerintah. Makan cukup kan, semua dirawat, dokter oke. Itu saja, salam hangat dari bapak presiden. Kita semua berdoa agar bapak-ibu cepat sembuh,” katanya saat bertegur sapa.
Tidak lupa dalam kesempatan itu mengajak kepada para pasien jika ada anggota keluarganya lain yang terpapar Covid-19 agar bersedia dibawa ke selter untuk menjalani isolasi. Ini untuk mengantisipasi menularkan virus ke anggota keluarga yang lain.
“Bapak ibu, semua tolong sampaikan ke saudara-saudara yang lain daripada (isolasi) di rumah bisa menularkan orang lain, istirahat di sini sambil diobatin. Obatnya saya kira cukup dari Pak Dandim berikut paket-paketnya. Dokternya ada, semuanya bisa bantu. Jadi bapak ibu tidak perlu takut mengenai obat,” ujarnya.
Menurutnya, Covid-19 bukan sebuah aib, karena bisa mengenai siapa saja tanpa pandang bulu. Terlebih anggota keluarga Luhut serta sanak saudara hingga rekan-rekan kerja di kabinet pemerintahan pun, tak sedikit yang pernah terpapar dan akhirnya sembuh.
“Saya katakan, cucu saya umur 12 tahun kena, mantu dan anak saya Kopassus juga kena. Menteri-menteri, berapa yang kena. Jadi penyakit ini tidak peduli siapa dia,” jelas Luhut.
Oleh karena itu dia minta masyarakat bergotong-royong untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Sebab, sampai saat ini tidak ada yang mampu memastikan kapan situasi pandemi ini akan berakhir.
“Jadi saya minta kita semua harus super hati-hati. Kita tidak boleh jemawa bahwa sekarang kita agak membaik. Yang lain negara itu, semua masih parah,” tandasnya.
Selain itu, pemerintah perlu bekerja keras yaitu testing dan tracing diketatkan, termasuk vaksinasi. Vaksinasi ditargetkan untuk wilayah seluruh DIJ bisa mencapai 100 persen pada September mendatang.
“Sampaikan kepada orang tua kita yang belum vaksin untuk vaksin, karena nanti masuk ke Malioboro kita akan minta supaya bawa kartu vaksin. Itu demi keuntungan dan keselamatan kita semua,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, syarat perjalanan dengan membawa kartu vaksin itu tidak hanya diterapkan di Malioboro sebenanya. Melainkan hendak masuk ke wilayah Kota Jogja dari daerah manapun.
Kartu vaksin menjadi bekal dokumen utama ketika hendak keluar masuk kota, selain surat hasil test antigen. “Otomatis masuk tempat wisata seperti Malioboro mereka juga harus membawa kartu vaksin. Bagi yang belum bervaksin, ya dia tidak bisa masuk,” katanya.
Meski begitu, terkait mekanismenya masih terus digodok. Namun, menurut HP, persyaratan ini diterapkan secara nasional bahwa setiap perjalanan harus membawa surat vaksin. Sehingga, yang sudah vaksin bisa segera download sertifikatnya.
Bagi yang belum segera melakukan vaksinasi. “Nanti begitu kendaraan-kendaraan besar terutama bus, akan kita atur sedemikian rupa supaya nanti diperiksa surat-surat kelengkapan vaksinnya,” tambahnya.
Dorong Target Vaksinasi di Sleman 15 Ribu Per Hari
Sementara itu dalam kunjunganya ke Sleman, Menko Marives Luhut Binsar Pandjaitan mendorong Pemkab Sleman menaikkan target sasaran vaksin setiap harinya. Penyuntikan vaksin dinaikkan empat kali lipat dari yang saat ini dilakukan pemkab sebanyak 2.700 dosis per hari.
“Jadi nanti ibu bupati, target vaksinnya dinaikkan empat kali. Dari sekarang 2.700, kita mau target kita jadi 15 ribu per hari,” ungkap Luhut kepada Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo saat melakukan kunjungan vaksinasi di Kompleks Parasamya Pemkab Sleman, kemarin (6/8).
Dikatakan Luhut, hal ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo bahwa vaksinasi terus dikebut. Sasarannya 2,3 juta penduduk di Indonesia bisa tervaksin sampai September mendatang. Menurutnya, vaksin dari pemerintah pusat tidak ada masalah. Distribusi ke daerah dipastikan mencukupi.
Dikatakan, vaksinasi terus digencarkan dengan sasaran meluas. Mengingat varian Delta sudah merajai Tanah Air dan negara lain. Begitu juga di Sleman yang kasusnya masih tinggi. Oleh sebab itu vaksin di dorong mencapi 70-75 persen. “Syukur-syukur bisa 100 persen,” tandasnya.
Dia juga mengingatkan agar masyarakat was-was terhadap varian Delta ini. Apalagi kasus penularan di Bumi Sembada ini masih tinggi. Ada enam ribu warga yang terinfeksi. Dan, baru 234 warga yang positif melakukan isolasi di selter.
Dia meminta kepada Dandim dan Kaporles Sleman agar isoman sebisa mungkin dibawa ke isoter. Supaya penularan tidak tinggi. Upaya dapat dilakukan door to door mendatangi pasien. Jika menolak, harus dipaksa dengan diberikan pengertian bahwasannya untuk kebaikan bersama.
“Nanti kan bisa bergantian tempatnya. Setelah ada yang sembuh, diisi lagi. Karena kan penularan masih berkembang,” ungkap Luhut yang juga didampingi Gubernur HB X.
Dikatakan, bahaya varian Delta dapat menyerang sistem pernapasan manusia. Apalagi saturasinya turun 95 hingga 90 persen ke bawah. Jika tidak segera ditangani, kemungkinan untuk meninggal sangat tinggi.
“Kebanyakan meninggal dunia, 39 persen itu karena tidak vaksinasi dan tidak ikut prokes. Selain itu karena tidak termonitor saturasi oksigennya,” beber Luhut.
Dalam kunjungan ini, penyandang disabilitas yang tergabung dalam Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Sleman turut berfoto bersama Menkomarives ini. Ketua PPDI Sleman Sukamto mewakili kelompoknya wadul kepada Luhut, agar penyandang disabilitas diberikan vaksinasi dengan cara khusus.
Sukamto menyebutkan, dari tujuh ribu penyandang disabilitas di Sleman, baru dua ribuan yang mendapatkan jatah vaksin. Karena keterbatasan akses, dia meminta agar pelaksanaan vaksin dilakukan dengan jemput bola.
“Yang mana pelaksanaaannya dibarengkan dengan pendamping dari keluarga disabilitas. Itu yang selama ini menjadi kendala kami Pak,” ungkap Sukamto di lokasi yang sama.
Seketika itu pun Luhut meminta agar Pemkab Sleman memudahkan akses pelaksanaan vaksin. Khususnya bagi penyandang disabilitas yang terkendala akses. (wia/mel/laz)
Editor : Editor Content