Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Emma Rahmi Aryani mengatakan, sudah tiga kali bersurat ke Kementerian Kesehatan dan juga Pemprov DIJ untuk memintakan pengadaan kembali favipiravir. "Sekarang ketersediaannya hanya sekitar 3.700 itu. Jumlah itu juga hanya bisa untuk 90 orang pasien," katanya kemarin (2/8).
Emma menjelaskan ketersediaan obat antivirus yang semakin menipis ini seiring munculnya peningkatan kasus Covid-19 di DIJ dan termasuk kota Jogja. Maka, Pemkot lalu membagikan obat tersebur ke puskesmas. Sebelumnya, obat antivirus ini hanya tersedia di rumah sakit. Sehingga, puskesmas belum ada pemberian obat tersebut kepada penderita Covid-19. Hanya memberikan paket vitamin, multivitamin, madu, ataupun suplemen yang mengandung zinc. "Setelah ada aturan harus diberikan (obat antivirus) kita beri. Lalu puskesmas juga bisa mengobati," ujarnya.
Sehingga, puskesmas mulai ada obat antivirus sebelum favipiravir yaitu oseltamivir. Setiap puskesmas diberi 20 butir, dikhususkan bagi pasien bergejala sedang. Itu pun tidak semua pasien diberikan obat antivirus itu. Sebab yang utama ialah daya tahan tubuh. "Setelah kasus Covid-19 di DIJ meledak dan adanya obat antivirus itu, Pemkot lalu membagikan ke puskesmas," jelasnya.
Hingga saat ini, pemkot sudah mengajukan pengadaan barang favipiravir.
Sudah tiga kali bersurat ke Kementerian Kesehatan maupun Pemprov DIJ. Namun, belum ada jawaban dan masih menunggu. "Kemarin Juli itu sudah berkirim surat kembali, kami tidak hanya meminta, tapi kami juga membeli. Tapi karena stoknya tidak ada mau bagaimana?" tandasnya.
Obat antivirus tersebut, lanjut Emma juga ada di beberapa pasaran. Kendati begitu, jumlahnya juga tak banyak. Jika ada yang menjual di pasaran pun harus menggunakan resep dokter. Sehingga tidak bisa sembarang membeli. "Upaya lain ya memberikan vitamin. Kalau di pasaran itu ada (favipiravir) bagi pasien kami berikan resep obatnya. Tapi kalau di apotek tidak ada ya mau bagaimana juga," tambahnya.
Terpisah, Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti mengatakan, penderita Covid-19 tidak boleh membeli obat sembarangan. Sekalipun membutuhkan obat, tetapi harus ada resep dari dokter yang menangani. "Saya berharap, obat untuk penanganan pasien Covid-19 ini harus sesuai mekanisme. Jangan ada apotek yang menjual obat yang seharusnya pakai resep dokter tapi dijual bebas. Ini yang salah," katanya. (wia/pra) Editor : Editor Content