RADAR JOGJA – Aktivitas pariwisata sudah tutup lebih dari tiga minggu. Bahkan terancam lebih lama, kalau PPKM diperpanjang. Sebagian pelaku pariwisata mulai beralih profesi. Tapi, mereka yang tidak memiliki keterampilan dan dana lebih, kembali jadi pengangguran.
“Di kawasan Hutan Mangunan ada 700-an orang (pelaku pariwisata, Red). Sebagian tidak memiliki pekerjaan kembali,” ungkap Ketua Koperasi Notowono Mangunan, Dlingo, Bantul, Purwo Harsono kepada Radar Jogja Minggu (25/7).
Diperkirakan, jumlah pelaku pariwisata yang kembali menjadi pengangguran lebih banyak. Dibanding pelaku pariwisata yang beralih profesi. Sebab warga yang diberdayakan, berdasar hasil rekrutmen, sebelumnya merupakan petani kurang produktif dan pengangguran. “Waktu itu kami rekrut, selain petani hutan yang sudah tidak produktif, ya penganggur itu,” sebut Ipung, sapaan akrabnya.
Untuk itu, Ipung mencari informasi bantuan. Terkait permodalan bagi pelaku usaha wisata dalam membangkitkan perekonomian. “Tapi belum ada info resmi. Kami belum pernah mengajukan sebelumnya, karena sulit akses internet. Selain itu pemahaman warga juga rendah,” bebernya.
Sementara, pelaku pariwisata hanya mampu mencoba bertahan hidup dalam keadaan sulit sambil menunggu buka. Beberapa warga tetap dipekerjakan, tapi itu hanya segelintir orang. Guna melanjutkan pengerjaan fasilitas tambahan dan perawatan objek wisata (obwis). “Kayak daya tarik selfie, ada yang rusak dibenahi. Sama jaga kebersihan. Karena kalau hutan itu, satu minggu tidak diurus akan kembali belantara lagi,” ujarnya.
Salah satu pemilik warung kuliner di Pantai Depok, Nunik mengaku pasrah. Tidak ada lagi wisatawan yang datang ke Pantai Depok sejak PPKM darurat diberlakukan pada 3 Juli lalu. “Yo sabar, mau gimana lagi, lah nek pemerintah kayak gitu,” ucapnya lirih.
Tapi perempuan 43 tahun ini masih membuka warungnya. Mengharap rekan-rekannya yang saat ini beralih profesi sebagai petani ada yang mampir ke warung. Sekadar membeli ikan satu atau dua ekor untuk dibawa ke sawah. “Njagakke (menunggu) satu dua, kalau ada yang membeli ikan gek (baru) dimasak,” sebutnya.
Sementara pemilik salah satu warung di Pantai Pelangi, Parangtritis, Kretek, Bantul, Puji Eti mulai berputus asa. Ibu empat anak ini kembali menjadi pemulung akibat sepinya pengunjung di Pantai Pelangi. Bahkan warung yang pernah dibangunnya dibiarkannya tidak terurus dan hampir ambruk. “Dulu ramai pengunjung ya Alhamdulillah. Sejak pandemi jadi sepi, ditambah sekarang ada pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat,” keluhnya.
Sekda Bantul, Helmi Jamharis belum dapat memastikan, perkembangan terbaru terkait kebijakan PPKM darurat. Termasuk kemungkinan adanya pembukaan atau pelonggaran di beberapa sektor. Sebab keputusan menunggu arahan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI. (fat/pra) Editor : Editor Content