Kepala Staklim Jogjakarta Reni Kraningtyas mengatakan, suhu udara dingin disesebabkan sejumlah faktor. Pertama, adanya pergerakan massa udara dari Australia dengan membawa massa udara dingin dan kering ke Asia melewati Indonesia atau disebut dengan Monsoon Dingin Australia.“Suhu udara dingin terpantau sejak lima hari terakhir,” kata Reni Kraningtyas saat dihubungi kemarin (18/7).
Selain itu, suhu udara dingin juga diakibatkan tutupan awan relatif sedikit dan pantulan panas dari bumi yang diterima sinar matahari tidak tertahan oleh awan, tetapi langsung terbuang dan hilang ke angkasa. Kandungan air dalam tanah hampur menipis, kandungan uap air di udara juga rendah, dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara. “Suhu udara minimum berkisar 18-23 derajat celcius dan kelembapan udara permukaan minimum 50-58 derajat celcius,” ujarnya.
Diperkirakan kondisi tersebut berlangsung hingga Agustus. Masyarakat diminta menjaga imunitas tubuh dengan cara mencukupi kebutuhan cairan (menghindari dehidrasi) serta makanan dan minuan hangat. Pada malam hari gunakan pakaian selimut tebal. Suhu pendingin udara ruangan tidak terlalu rendah. Menggunaan krim pelembab kulit, supaya kulit tidak kering.“Potensi peningkatan penyakit pernafasan yang diakibatkan virus dan bakteri. Kulit dan bibir menjadi kering, mimisan. Jika paparan udara dingin terus berlangsung, akan terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia),” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, suhu dingin yang terjadi harus disikapi dengan mengetatkan PHBS. Terlebih di masa pandemi Covid-19, protokol kesehatan (prkes) tidak boleh ditawar.
“Pesan khusus, udara yang terlalu dingin dapat menjadi pemicu penyakit misalnya, asma, inspeksi saluran pernapasan akut (ISPA), alergi dingin dan lain-lain. Saat malam atau subuh lebih baik diam di rumah, jika perlu menggunakan pakaian hangat,” kata Dewi Irawaty. (gun/pra) Editor : Editor Content