Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kesampingkan Dulu Etika Bisnis

Editor Content • Kamis, 15 Juli 2021 | 14:15 WIB
TRIO ASING: Yevhen Bokhashvili (tengah) bersama Alfonso De La Cruz dan Brian Ferreira sedang melakukan pemanasan di sela latihan PSS Sleman di Lapangan Paskhas TNI AU, Senin (8/4). (HERRY KURNIAWAN/RADAR JOGJA)
TRIO ASING: Yevhen Bokhashvili (tengah) bersama Alfonso De La Cruz dan Brian Ferreira sedang melakukan pemanasan di sela latihan PSS Sleman di Lapangan Paskhas TNI AU, Senin (8/4). (HERRY KURNIAWAN/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Kesalahpaham disebut jadi penyebab ditariknya 250 tabung oksigen medis di RS PKU Muhammadiyah Jogjakarta, oleh vendor oksigen terkait. Hal itu berdampak berkurangannya pasokan oksigen di rumah sakit yang ada di Jogjakarta.

Peristiwa tersebut mendapat perhatian dari Pemprov DIJ. Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIJ, Baskara Aji menyayangkan peristiwa tersebut. Sebab hal itu membuat ketersedian oksigen menjadi langka. Dia pun meminta kepada perusahaan atau vendor untuk tak mementingkan masalah etika bisnis di tengah situasi krisis seperti saat ini. " Itu namanya egois, sekarang ini kondisinya kan sedang darurat," terang Aji.

Aji mencontohkan bagaimana yang terjadi di RSUP Dr Sardjito. Menurut dia, di rumah sakit tersebut ada tangki gas dari perusahaan tertentu tapi bisa diisi dengan oksigen dari perusahaan lain.

Agar kejadian tersebut tak terulang, pihaknya bersedia memfasilitasi pertemuan antara pihak vendor dan RS agar permasalahan tersebut dapat tertangani. "Nanti kalau perlu fasilitasi ya, bisa kami lakukan biar nggak ada kesalahpahaman," jelasnya.

Sementara itu Dirut RS PKU Muhammadiyah Jogjakarta, Komaruddin menjelaskan penarikan tabung tersebut bermula ketika rumah sakitnya kalang kabut mencari persediaan oksigen yang mulai menipis sejak 4 Juli. Rumah sakit kemudian mencoba meminta pasokan tambahan dari distributor tersebut.

Persoalannya, pada saat itu ketersediaan oksigen milik distributor sedang kosong. Mengingat kondisi darurat, Komaruddin mencari vendor dari perusahaan lain sampai ke Tuban, Jawa Timur. Kemudian tabung tersebut dipakai untuk isi oksigen dari perusahaan lain. ”Pihak distributor langganan mengetahui hal ini merasa keberatan tabungnya diisi oksigen dari perusahaan lain,” jelasnya.

Komaruddin menegaskan pangkal permasalahan ini adalah murni ketidaktahuannya akan etika bisnis. Pasalnya, selama ini tidak ada hitam di atas putih atau kontrak antara rumah sakit dan distributor tersebut. "Tidak ada kontrak, administrasi juga nggak ada. Sehingga, saya juga nggak paham kalau ada etika yang harus saya patuhi. Saya pikir karena kondisi kritis saya harus menyelamatkan (pasien)," sebutnya.

Sejak saat itu kerjasama antar rumah sakit dan distributor tersebut pun resmi berakhir. RS PKU Muhammadiyah Jogja kini harus mencari tabung-tabung lagi untuk cadangan kebutuhan oksigen. "Sekarang tabung beli sendiri, kami isi sendiri. Kami putar-putar, karena butuh banyak (cadangan)," tandasnya.

Wakil Ketua DPRD DIJ, Huda Tri Yudiana menegaskan apa yang terjadi di RS PKU Muhammadiyah Jogjakarta itu bisa menjadi pelajaran bagi wilayah lain di DIJ. Menurutnya, saat ini memang kebutuhan oksigen di mana-mana sulit. Pihaknya pun meminta kepada Polda DIJ untuk memberi perlindungan bilamana kesalahpahaman itu bergulir sampai ke meja hukum.

"Itu kan sudah beredar kabarnya. Saya harap ya ada perlindungan dari Polda. Karena ini urusannya keselamatan seseorang," ungkapnya. (kur/bah) Editor : Editor Content
#tabung oksigen