Pantauan Radar Jogja, seluruh komunitas PKL berderet berdiri dengan sikap sempurna di sepanjang pedestrian menghadap Jalan Malioboro dari titik utara Malioboro sampai ujung selatan Ngejaman. Ada yang dengan mengenakan baju adat Jawa maupun baju seragam kebesaran komunitas PKL.
Diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya bergema tepat pukul 10.00 di lokasi lapak masing-masing, dipandu ketua-ketua komunitas. Kemudian menyanyikan Garuda Pancasila yang diiringi musik dari kendaraan yang membawa sound system dan bendera Merah Putih menyisir Jalan Malioboro.
“Kami melihat tadi sangat apresiasi dan luar biasa, di mana Malioboro adalah menjadi milik kita bersama. Semuanya bersemangat patriotisme dan nasionalisme yang tinggi,” kata Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Ekwanto usai mengikuti acara itu di atas kendaraan yang mengiringi musik dan membawa bendera Merah Putih.
Ekwanto menjelaskan, setiap pagi bergema Indonesia Raya sudah menjadi rutinitas yang dilakukan komunitas PKL Malioboro, usai keluarnya intruksi gubernur DIJ. Upaya agar semangat patriotisme dan nasionalisme semakin ditingkatkan dalam momentum Hari Lahir Pancasila. Hal ini dimaknai sebagai istilah 'Jas Merah' yaitu jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Hari Lahir Pancasila menjadi momentum tetap semangat membangkitkan ekonomi di tengah pandemi Covid-19 dari Malioboro untuk Jogja, Indonesia, dan dunia. “Tentunya ini menjadi ikon kenangan bagi wisatawan yang berkunjung di Malioboro, yang mungkin di daerahnya tidak ada seperti ini,” ujarnya.
Ketua Koperasi Tridharma Rudiarto mengatakan, acara ini dirancang secara spontanitas. Sebagai bagian dari susunan bergema Indonesia Raya sebelumnya, yang dilanjutkan dengan Garuda Pancasila saat momentum Hari Lahir Pancasila.
“Spirit dari Pancasila ini supaya bisa betul-betul dijiwai segenap komponen kaki lima yang ada di Malioboro, dari ujung utara sampai ujung selatan. Dan alhamdulillah semangatnya ada, semua berhenti sejenak untuk berdiri secara khidmat mengikuti agenda,” katanya.
Kegiatan ini melibatkan sekitar empat ribuan peserta dari anggota Komunitas PKL Malioboro yang berpartisipasi. Baik dari Koperasi Tridharma, Pemalni, Handayani, Padma, Srikandi, URC, Lesehan, dan PPKLY.
“Harapan kami setelah acara ini bisa menjadi spirit menumbuhkan jiwa nasionalisme kita yang dirasa sudah mulai luntur, ya rasa persatuan, keadilan sosial, kemanusiaan di antara kita semua,” jabarnya.
Sementara Ketua Koperasi Persatuan Pedagang Kaki Lima Yogyakarta (PPKLY) Unit 37 Wawan Suhendra mengatakan, Indonesia Raya bergema yang sudah rutin dilaksanakan setiap pagi disambut sangat baik. Ditambah menyanyikan Garuda Pancasila pada momentum tertentu. Dampak yang dirasakan sangat positif. Salah satunya mendekatkan dan merekatkan lagi sesama masyarakat khususnya sesama PKL.
“Alhamdulillah para PKL semangat, tidak ada rasa ah harus berhenti berjualan. Walaupun ada pengunjung, ya mereka tinggal. Itu sudah kesepakatan dengan teman-teman semua,” kata Wawan yang juga ketua DPD Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Kota Jogja ini.
Hal senada diungkapkan yang dituakan di PPKLY Maryono. Ia menambahkan, tidak berkeberatan setiap pagi bergema Indonesia Raya. Ditambah dengan momentum tertentu yang mengharuskan juga menyanyikan lagu nasional seperti Hari Lahir Pancasila kemarin.
Sebab, hal itu ternyata bisa menjadikan makna untuk menyambung silaturahmi antar-PKL. “Karena sebelum korona agak renggang, sekarang sudah lebih akrab lagi. Walaupun ada jaga jarak, tapi keakraban semakin tidak berjarak dengan teman-teman. Semua menjadi sedulur dewe, yakin dan menjadi semangat,” tambahnya. (wia/laz) Editor : Editor Content