Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Larangan Mudik Lebaran, Tren Jumlah Penumpang KRL Jogja-Solo Turun

Editor News • Senin, 31 Mei 2021 | 16:44 WIB
BERKURANG: Saat masa larangan mudik lebaran 2021, moda transportasi KRL relasi Jogjakarta-Solo dan KA Prameks  berdampak signifikan.  (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
BERKURANG: Saat masa larangan mudik lebaran 2021, moda transportasi KRL relasi Jogjakarta-Solo dan KA Prameks berdampak signifikan. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
 

RADAR JOGJA – Moda transportasi KRL relasi Jogjakarta-Solo dan KA Prameks saat masa larangan mudik lebaran 2021 berdampak signifikan.

Untuk KRL tercatat sebanyak 48.572 orang dengan pengguna terbanyak pada Senin (17/5) sebanyak 7.172 orang. Sementara untuk KA Prameks sebanyak 14.061 orang dengan pengguna terbanyak pada Senin (17/5) sebanyak 1.584 orang.

Angka ini merupakan kalkulasi masa larangan mudik dari 6 hingga 17 Mei. Dalam rentang waktu tersebut untuk KRL beroperasi dengan 20 perjalanan perhari. Sementara untuk KA Prameks beroperasi dengan 8 perjalanan perhari.

"Angka ini turun 5,8 persen dibanding pekan sebelumnya yaitu 51.589 orang untuk KRL Jogjakarta-Solo dan turun 4 persen dibanding pekan sebelumnya yaitu 14.651 orang untuk KA Prameks," jelas Vice President Corporate Secretary KAI Commuter Anne Purba ditemui di Stasiun Tugu Jogjakarta, Sabtu malam (29/5).

Sebagai perbandingan, angka ini sudah tergolong kecil dibanding bulan puasa. Tercatat ada 121.417 penumpang yang menggunakan jasa KRL Jogjakarta-Solo. Sedangkan KA Prameks melayani 34.406 penumpang.

Walau terjadi penurunan, namun Anne menilai ada sisi positif. Artinya masyarakat benar-benar patuh atas anjuran pemerintah. Untuk tidak melakukan mobilitas selama musim libur lebaran 2021.

"Bisa jadi yang mobilitas kemarin adalah yang ada kepentingan kerja. Sehingga mau tak mau harus tetap menggunakan KRL dan Prameks," katanya.

Anne menambahkan dari total angka tersebut, mayoritas penumpang naik dari Stasiun Tugu Jogjakarta. Selama masa larangan mudik tercatat ada 14.639 pengguna KRL. Sementara di Stasiun Lempuyangan melayani 3.031 pengguna KRL.

Data penumpang yang turun di kedua stasiun. Tercatat ada 13.452 penumpang KRL yang turun di Stasiun Tugu Jogjakarta. Adapula 7.413 penumpang KRL yang turun di Stasiun Lempuyangan.

"Stasiun Tugu masih menjadi favorit untuk para penumpang KRL untuk mengawali keberangkatan. Meski begitu stasiun-stasiun pemberhentian lainnya juga tetap diminati," ujarnya.

Beroperasinya KRL telah mencuri hati warga Jogjakarta dan Solo. Kereta pengganti KA Prameks ini menjadi moda transportasi penghubung utama. Khususnya bagi yang memiliki aktivitas di kedua kota tersebut.

Parameter meningkatnya peminat juga terlihat dari penggunaan kartu multi trip (KMT). Saat ini sebanyak 60 persen pengguna KRL menggunakan KMT. Sementara kartu elektronik bank sebanyak 21 persen dan dengan QR Code sebanyak 19 persen

"Selama masa larangan mudik, KMT juga banyak yang mencari. Kami mencatat dalam rentang waktu tersebut jumlah kartu yang terjual berjumlah 7.384 unit dan kartu elektronik bank berjumlah 273 unit," katanya.

Upaya peningkatan pelayanan juga telah berlangsung bertahap. Diawali dengan penggunaan tiga rangkaian penuh KRL. Dalam satu rangkaian tersebut terdiri dari stamformasi (SF) 8 kereta. Pada awal beroperasinya KRL Jogjakarta-Solo hanya satu rangkaian yang terdiri dari delapan kereta.

Anne menuturkan penambahan rangkaian bertujuan menambah kapasitas penumpang. Terlebih masa pandemi Covid-19 terdapat pembatasan jumlah penumpang dalam satu gerbong. Harapannya penumpang tidak perlu menunggu jadwal berikutnya untuk berangkat ke Solo maupun Jogjakarta.

"Dengan penambahan panjang rangkaian KRL ini, kapasitas pengguna yang dapat dilayani lebih banyak dan penerapan physical distancing atau jaga jarak aman antara pengguna bisa lebih maksimal," ujarnya.(dwi/sky) Editor : Editor News
#KRL Jogja Solo