Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan tepatnya di RT 56, RW 12 kelurahan Wirobrajan yang diberlakukan lockdown sejak Kamis lalu (6/5). Warga setempat dilarang keluar rumah maupun beraktifitas di luar rumah atau dibatasi akfitasnya. "Lamanya (lockdown) kita belum tahu. Tapi secara otomatis selama lebaran dtidak menyelenggarakan salat Id untuk RT setempat," katanya Senin (10/5).
HP menjelaskan kasus ini dimulai dari seorang lansia yang mengalami sakit seperti flu dan pilek. Ketika di rumah sakit kedapatan Covid-19 setelah diperiksa yang kemudian menular ke anak dan suami. Dan beberapa hari kemudian lansia tersebut meninggal. "Apakah dari sakitnya ibu (lansia), sudah menularkan ke saudara dan tetangganya, belum bisa diketahui. Sebab di rumah yang berbeda, tetangga dan saudara juga. Ada ibu dan anak ini kerja di rumah sakit di luar kota juga terpapar," sambungnya.
Kasus tersebut ditengarai oleh anaknya yang merupakan perawat di salah satu rumah sakit di luar kota yang sampai akhirnya beberapa anggota keluarga lainnya positif virus korona. Sebab, tetangga yang juga saudara dari ibu itu, juga muncul keluarga yang terinfeksi virus korona. Begitu pula beberapa anggota lain, rumahnya hanya berhadapan juga terinfeksi virus korona. Bahkan oleh keluarga besar rumahnya sempat digunakan buka bersama oleh keluarga besarnya atau trah. "Awalnya kasus itu karena rumah yang padat, masih satu trah dan tidak menjalankan prokes dengan benar. Meskipun sebenarnya satgas PPKM mikro sudah berkali-kali menghimbau melaksanakan prokes dengan benar," kata mantan wartawan itu.
Pun penyebab lain juga karena tidak tanggapnya keluarga terhadap gejala sakit yang dialami anggota keluarganya. Tetapi, memilih dengan alternatif pijat. Sampai akhirnya, pemijatnya yang juga saudara terpapar. "Dan ada juga yang saling kerokan. semuanya itu baru ketahuan Covid-19 setelah berhari-hari tidak sembuh dan dibawa ke rumah sakit," imbuhnya.
HP menyebut, kasus Covid-19 tersebut berada di empat rumah yang positif melalui test PCR, dan 11 rumah positif antigen. Rumah warga tersebut juga sangat berdekatan. Sehingga, oleh petugas PPKM mikro dibatasi mobilitasnya semacam lockdown untuk mencegah sebaran kasus ke wilayah lain. Kegiatan ibadah ramadan juga tidak dilakukan di masjid, melainkan di rumah masing-masing. "Semua kasus positif PCR kita upayakan masuk ke shelter Bener Tegalrejo," ujarnya.
Sampai Senin (10/5) diketahui 10 orang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. Sembilan di iantaranya dirawat di rumah sakit dan satu lainnya menjalani isolasi mandiri. Kemudian dilakukan tes antigen terhadap 30 warga, hasilnya 20 positif antigen dan 10 negatif. Mereka saat ini sudah menjalani isolasi mandiri sembari menunggu hasil test PCR. "Tadi (kemarin) siapkan 50 tes antigen, tapi yang hadir baru 39 warga. Ini masih kita upayakan agar semua bisa menjalani tes antigen," jelasnya. (wia/pra) Editor : Editor Content