Berdasarkan pengalaman suksesi dari Sultan Hamengku Buwono IX ke Sultan Hamengku Buwono X, pangeran lurah berpeluang menggantikan raja yang berhalangan tetap. Sebelum bertakhta sebagai sultan, HB X punya nama dan gelar KGPH Mangkubumi. Dia merupakan anak laki-laki tertua HB IX. Pangeran lurah dijabat Mangkubumi sejak 1972 hingga 1989.
Pangeran lurah merupakan pangeran paling senior. Atau tertua di antara para pangeran yang ada. Dengan meninggalnya Gusti Hadi, sapaan akrab Hadiwinoto, putra laki-laki HB IX tinggal sembilan orang.
Jumlah adik laki-laki sekandung maupun beda ibu dari HB X seluruhnya berjumlah 14 orang. Lima orang diketahui telah meninggal. Satu orang meninggal sebelum HB X naik takhta. Yakni Bendara Raden Mas (BRM) Kuslardiyanto.
Sedangkan empat orang lainnya wafat setelah raja kesepuluh Dinasti Mataram Ngayogyakarta itu jumeneng sebagai sultan. Mereka adalah KGPH Hadikusumo, GBPH Joyokusumo, GBPH Cakraningrat dan KGPH Hadiwinoto.
“Sekarang putra HB IX dan adik Ngarsa Dalem sekarang yang tertua adalah GBPH Hadisuryo. Sesuai paugeran adat, beliaulah yang berpeluang kuat menjadi pangeran lurah menggantikan almarhum Gusti Hadiwinoto,” ungkap Penghageng Tepas Dwarapura Keraton Ngayogyakarta KRT Jatiningrat di Pasareyan Hastarengga Kotagede, Kamis (1/4).
Jatiningrat menjelaskan, setiap sultan yang bertakhta didampingi satu orang pangeran lurah. Kriteria pangeran lurah, antara lain, putra laki-laki tertua dari sultan yang bertakhta atau adik laki-laki paling tua dari raja yang bertakhta.
Rama Tirun, begitu mantan Sekwilda Sleman ini biasa disapa, menyebutkan, pengangkatan pangeran lurah tidak harus dengan upacara atau wisuda. Namun harus ada keputusan yang dikeluarkan sultan. “Harus ada penetapan dari Ngarsa Dalem,” terang dia.
Kembali ke figur Hadisuryo, Rama Tirun menjelaskan merupakan putra laki-laki keempat dari HB IX. Putra sulung HB IX adalah BRM Herjuno Darpito. Setelah menjadi pangeran bergelar KGPH Mangkubumi.
Pasca HB IX wafat, Mangkubumi yang saat itu menjabat pangeran lurah menggantikan ayahandanya sebagai sultan. Naik takhta pada 7 Maret 1989. Bergelar Sultan Hamengku Buwono X.
Di awal-awal bertakhta, HB X didampingi adik tertua beda ibu GBPH Hadikusumo sebagai pangeran lurah. Dengan promosi sebagai pangeran lurah, gelar Hadikusumo naik satu tingkat lebih tinggi menjadi KGPH Hadikusumo.
Tiga tahun menjadi pangeran lurah, Hadikusumo wafat pada 1992. Posisinya kemudian digantikan GBPH Hadiwinoto. Saat itu Hadiwinoto merupakan adik tertua kedua HB X. Sama seperti Hadikusumo, ketika diangkat menjadi pangeran lurah sebutan Hadiwinoto berubah dari GBPH menjadi KGPH Hadiwinoto.
Berbeda dengan Hadikusumo yang beda ibu, Hadiwinoto merupakan adik kandung HB X. Keduanya sama-sama lahir dari istri kedua HB IX, Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Windyaningrum. Sedangkan Hadikusumo dan Hadisuryo sama-sama terlahir dari istri pertama HB IX. Nama ibunya KRAy Pintoko Purnomo.
Selama ini Hadisuryo banyak tinggal di Jakarta. Kediamannya ada di kawasan elite Darmawangsa Jakarta Selatan. Beberapa tahun terakhir pangeran yang punya nama kecil BRM Kasworo ini lebih sering bermukim di Jogja. Tepatnya di Ndalem Hadinegaran, Bintaran.
Di bawah Hadisuryo, urutan anak laki-laki HB IX berikutnya adalah GBPH Prabukusumo. Dia putra dari istri ketiga KRAy Hastungkoro. Selanjutnya, GPBH Pakuningrat. Pangeran ini lahir dari istri keempat KRAy Ciptomurti.
Hadiwinoto menjabat pangeran lurah sejak 1992 hingga 2021. Dia juga memiliki beberapa jabatan penting di keraton. Antara lain, penghageng Kawedanan Hageng Punawakawan (KHP) Wahana sarta Kriya dan penghageng Tepas Panitikismo. Posisi pertama semacam menteri koordinator pekerjaan umum dan perumahan. Sedangkan jabatan itu seperti menteri urusan agraria atau pertanahan.
“Kalau pengganti Gusti Hadi untuk penghageng Panitikismo, saya belum tahu. Siapa saja rayi-rayi dalem yang memenuhi kriteria,” terang putra mantan rektor Universitas Islam Indonesia (UII) GBPH Prabuningrat ini.
Di masa menjalan tugas sebagai pangeran lurah, kakak kandungnya, Sultan HB X mengeluarkan dekrit kerajaan bernama Sabdaraja pada 30 April 2015. Nama dan gelarnya berganti. Dari Sultan Hamengku Buwono X menjadi Sultan Hamengku Bawono Ka 10.
Pandangan soal kans kuat GBPH Hadisuryo sebagai pangeran lurah karena merupakan putra laki-laki HB IX tertua setelah HB Ka 10, juga disampaikan GBPH Yudhaningrat. Manggalayudha Prajurit Keraton Ngayogyakarta itu mengatakan, pangeran tertua saat ini adalah Hadisuryo. Sesuai paugeran adat yang bersangkutan bisa diangkat sebagai pangeran lurah.
“Syaratnya sebagai anak laki-laki tertua setelah Ngarsa Dalem,” ungkap Yudhaningrat yang juga hadir di Pasareyan Hastarengga Kotagede mengenakan busana Jawa jangkep (lengkap, Red) gaya Ngayogyakarta Hadiningrat.
Yudhaningrat sejak Januari lalu tidak lagi memegang beberapa jabatan penting di keraton. Posisi penghageng KHP Kridhamardawa, semacam menteri kebudayaan dicopot oleh HB Ka 10. Posisinya sekarang nonjob. (kus/laz)
Editor : Editor Content