Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lewat Rap, BEM UGM Kritik Penanganan Sampah Jogja

Editor News • Kamis, 25 Maret 2021 | 01:47 WIB
KONDISI:Ketua BEM UGM Muhammad Farhan mengatakan, Lagu ini tentang kondisi TPA Piyungan saat ini atau kondisi pengolahan sampah di Jogjakarta pada umumnya. Konsep yang kami sajikan sesuai dengan kajian yang kami lakukan. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
KONDISI:Ketua BEM UGM Muhammad Farhan mengatakan, Lagu ini tentang kondisi TPA Piyungan saat ini atau kondisi pengolahan sampah di Jogjakarta pada umumnya. Konsep yang kami sajikan sesuai dengan kajian yang kami lakukan. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Sebuah video musik berjudul Negeri Istimewa oleh sekelompok mahasiswa bernama Kementerian Aksi dan Propaganda sedang ramai di aplikasi YouTube.

Video berdurasi 2:55 menit itu menghadirkan konsep bermusik yang berbeda. Berupa lirik kritikan dengan latar belakang tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan Bantul.

Video ini merupakan karya para mahasiswa UGM. Diunggah oleh akun BEM KM UGM, video ini telah diputar hingga 20 ribu kali. Selain itu juga mendapatkan apresiasi tombol suka sebanyak 3,5 ribu.

"Lagu ini tentang kondisi TPA Piyungan saat ini atau kondisi pengolahan sampah di Jogjakarta pada umumnya. Konsep yang kami sajikan sesuai dengan kajian yang kami lakukan," jelas Ketua BEM UGM Muhammad Farhan ditemui di Kompleks Kantor, Rabu (24/3).

Bukan tanpa alasan para mahasiswa ini membuat karya musik. Cara ini dianggap lebih bisa diterima semua kalangan. Terlebih tema yang diangkat juga berkaitan dengan kepentingan publik.

Sebelum menjadi karya, para mahasiswa ini melakukan kajian sejak awal Februari. Diawali dengan pendekatan kepada warga yang berada di sekitar TPA Piyungan. Hingga akhirnya didapati sejumlah masalah tentang pengelolaan dan dampak berdirinya TPA Piyungan.

"Diawali dengan identifikasi masalah dulu. Lalu kami kemas menjadi sebuah lagu. Proses produksi 2 mingguan, 1 Minggu untuk buat lagunya lalu 1 Minggu setelahnya untuk video klipnya," katanya.

Lama berbincang, Farhan akhirnya mulai curhat atas karya para mahasiswa kali ini. Munculnya konsep video klip merupakan wujud keresahan. Terutama atas upaya menyampaikan kebebasan berpendapat di muka umum.

Kondisi ini mulai terjadi pasca kerusuhan demo di kawasan Malioboro. Kala itu penyampaian aspirasi berubah menjadi aksi anarkis. Berupa perusakan Gedung DPRD DIJ, Legian Cafe hingga sejumlah fasilitas di kawasan Malioboro.

"Karena pergerakan mahasiswa sempat mengalami ketidakpercayaan dari publik karena demo. Lalu kami pilih konsep yang seperti ini dengan mengangkat isu lingkungan," ujarnya.

Inspirasi karya juga datang dari Jogja Hip-Hop Foundation (JHF). Kelompok musik asal Jogjakarta ini memang terkenal dengan liriknya yang unik. Mengangkat isu sosial dengan kearifan lokal.

"Isu lingkungan ini isu laten, masyarakat dulu juga sempat geger saat TPST Piyungan sempat ditutup. Lalu pakai hip-hop karena memang kental dengan masyarakat Jogja. Seperti ada JHF, itu gabungkan budaya bahasa Jawa dengan isu lingkungan. Seperti Jogja Ora Dodol," katanya.(dwi/sky) Editor : Editor News
#BEM DIY #Kawasan Piyungan #TPST Piyungan