HERY KURNIAWAN, Bantul, Radar Jogja
Sejak lama isu soal pengelolaan sampah di TPST Piyungan meresahkan masyarakat. Banyak pihak yang menilai pengelolaan sampah di lokasi itu tidak ideal. Bagaimana sampah hanya ditumpuk dan kemudian ditimbun saja alias tidak dikelola sebagaimana mestinya. Bisa dikatakan tidak sesuai dengan nama yang disandang, yakni TPST.
Thomas Tatag, salah seorang penulis lagu Negeri Istimewa ini menyatakan, pihaknya coba menyoroti bagaimana pengelolaan yang tidak benar itu. Ia mengaku sebelum menulis lagu tersebut, ia dan rekan-rekannya dari BEM KM UGM sudah melakukan survei terlebih dahulu di TPST Piyungan, Bantul, itu.
Ia menceritakan dalam proses survei menemukan banyak hal yang sangat miris di TPST Piyungan. Tidak hanya soal pengelolaan sampah saja, tapi juga terkait kondisi masyarakat di sekitar TPST. Termasuk para pemulung yang tersebar di TPST Piyungan.
“Terutama soal kondisi kesehatan dan kesejahteraan mereka. Selama ini mereka jarang sekali mendapatkan pengecekan kesehatan misalnya,” kata Tatag.
Menurut Tatag, pemeriksaan kesehatan itu penting sekali dilakukan secara rutin. Untuk memastikan masyarakat yang tinggal di lokasi tersebut tetap sehat. Karena lokasi di sekitar TPST Piyungan memang sudah tidak sehat.
Lagu Negeri Istimewa cukup menarik. Mengusung musik hip-hop, Kementerian Aksi & Propaganda BEM KM UGM mengaku mendapatkan inspirasi dari Jogja Hip-Hop Foundation. Juga dari Noise, secara spesifik lagu mereka yang berjudul Substansi.
Lirik yang terkandung pada lagu Negeri Istimewa cukup keras. Lirik itu mengkritik pemerintah yang dinilai sampai saat ini belum berhasil melakukan pengelolaan yang baik bagi sampah di DIJ.
“Istimewa negerinya, rakyatnya sengsara, hotel dibangun untuk siapa, mal dibangun untuk orang kaya, sini sampah ada di mana-mana. Di sana dibangun megah, rakyatnya protes lalu pejabat malah marah. Katanya negeri istimewa, kok sampah tak dikelola?,” begitu penggalan lirik dari lagu Negeri Istimewa itu.
Lagu itu sudah diunggah di berbagai platform media digital sejak beberapa hari terakhir. Video musiknya sudah ditonton belasan ribu orang di platform YouTube dan puluhan ribu di berbagai platform yang lain.
Tatag berharap ke depan kondisi TPTS Piyungan jadi lebih baik lagi. Namun, terdekat ia berharap karya musik yang dibuat bisa tersebar luas di masyarakat. Ia juga berharap lagu itu, paling tidak bisa membuat masyarakat sadar tentang kondisi pengelolaan sampah yang tidak beres di DIJ. “Ya, mungkin untuk mengingatkan kita sendiri untuk tidak membuang sampah sembarangan,” tandasnya. (laz) Editor : Editor Content