Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pelanggannya seperti Keluarga Sendiri

Editor Content • Minggu, 21 Maret 2021 | 16:00 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Menikmati aneka makanan kecil atau jajanan tidak harus selalu menyambangi toko roti. Di perkantoran, jajanan ini biasa diantarkan oleh penjaja khas dalam tenong atau wadah makanan besar dari bambu berbentuk lingkaran.
Misalkan saja di kawasan perkantoran Semaki, Kota Jogja. Di sini ada Rupiyati, yang biasa berkeliling di kompleks perkantoran Jalan Cendana dan Jalan Kenari. Dengan membawa tiga tingkat tenong atau wadah berbentuk lingkaran berisi aneka jajanan.
Sekilas memang tak ada yang istimewa dari penjaja jajanan yang menggendong tenong atau seringkali disebut tenongan ini. Semua jajanan yang ia bawa tak tampak dari luar sebelum satu per satu tenong itu dibongkar. “Saya sudah dari tahun 1995-an, saat itu jaya sekali tenongan,” kata Rupiyati kepada Radar Jogja.

Mbok Tenong, begitu sapaannya, hampir setiap hari pada jam kantor menjajakan jajanannya dengan rute Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) dan Kantor Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (Tekkomdik) DIJ, serta RS Bethesda Lempuyangwangi. Namun, selama pandemi, rumah sakit tak lagi menjadi rutenya. “Rute sekarang ya cuma dua kantor itu. Dan saya bawa dagangan sekarang cuma dikit, banyak yang kerja di rumah (Workf from Home), takut nggak habis dagangannya,” ujarnya.
Karena dagangan yang dijajakkan pada masa pandemi dikurangi, cara membawa aneka makanan dan jajanan itu pun tanpa tenong beserta kostum jawanya yang menggunakan jarik dan kebaya. Sebelum pandemi, lengkap ada tiga tingkat tenong beserta jajanannya dengan berat kurang lebih 15-20 kilogram yang dibawa Rupiyati berkeliling berjalan kaki mulai pukul 07.00-12.00.
“Tenongan saya simpan di rumah, ini pakai wadah biasa. Sejak nggak pakai tenongan, ya nggak pakai jarik tapi pakai kostum biasa sehari-hari aja,” jelasnya yang saat itu berkeliling dengan sepeda onthel.
Ia pun mengganti-ganti aneka jajanan yang dibawanya. Hal itu tak lain agar pelanggannya tak bosan. Mulai dari jajanan pasar, kudapan ringan dan jenang pun ia jajakan. Ada sebagian kudapan diproduksi sendiri dan diambilnya dari relasinya di Pasar Sentul.
Kudapan yang diproduksi sendiri seperti nasi bungkus dan mi. Jajanan yang diambil dari relasi pasar seperti lumpia, risoles, roti-rotian, arem-arem, lemper isi, apem, klepon, donat, puding, dan masih banyak yang lainnya. Harganya juga bervariasi mulai Rp 2.500-Rp 5 ribu. “Kalau jajanannya nggak habis, ya dikembalikan. Yang dibayar yang laku aja. Kalau makanan yang saya buat habis semua rata-rata,” terang ibu dua anak ini.
Rupiyati menyebut dulu pernah tergabung dalam sebuah paguyuban tenongan bernama Sridadi. Namun tidak berselang lama, anggotanya terpecah dan mengambil rute sendiri hingga sekarang. Pun sejak 90-an itu, Mbok Tenong mengambil rute yang sama dengan yang saat ini masih bertahan.
“Kami nyari rute sendiri-sendiri dulu dari tahun 90-an. Intinya tidak boleh nyerobot rute yang lain. Kalau dulu juragan satu, juragan bikin dan dijual muter. Sekarang udah bubar paguyubannya,” cetusnya.

Meski sudah 26 tahun menggeluti sebagai penjaja makanan keliling, sesekali ia juga menerima order dalam partai besar dari pelanggannya. Namun pagebluk korona ini diakuinya menjadikan sepi omzet. Omzet yang didapat hanya berkisar Rp 10 ribu-Rp15 ribu per hari. Kudapan yang ia buat sendiri juga terdampak, dikurangi 15-20 bungkus dari kondisi normal bisa 50-100 bungkus.
“Cuma bertahan hidup, mampu nggak mampu mau gimana lagi sampai bingung, cari uang serba susah," tandasnya.
Kendati demikian, kenangan paling menarik yang tak bisa dilupakan adalah saat sebelum pandemi dengan pelanggan yang banyak. Salah satu pelanggan paling ramai adalah di RS Bethesda Lempuyangwangi. “Baru duduk aja sudah ada yang merapat beli. Jajannya udah kayak keluarga sendiri, serius dan lama ngobrol,” tambahnya. (wia/laz) Editor : Editor Content
#Kota Jogja #Tenongan