Belakangan, pedagang yang menggunakan tenongan untuk berkeliling menjajakan dagangannya sudah mulai berkurang. Selain itu, tenongan yang awalnya terbuat dari bambu juga sudah digantikan dengan wadah lain. Keranjang dari plastik atau semacam tampah yang terbuat dari alumunium.
Budayawan Achmad Charris Zubair punya banyak kenangan manis dengan apa yang disebut pedagang tenongan itu. Sewaktu kecil, ia kerap dibelikan jajanan yang ada dalam tenongan oleh orang tuanya. Ia pun masih bisa mengingat jajanan apa saja yang dulu menjadi jajanan favoritnya. “Kalau dulu ya suka sekali dengan lupis, juga kue-kue yang lain seperti apem,” kenangnya.
Menurut Charris, jajanan yang ada di tenongan biasanya adalah jajanan pasar yang memiliki warna menarik, sehingga sangat menarik minat anak-anak untuk membeli. Selain itu, dia rasa dari jajanan pasar memang juga enak.
Akademisi UGM yang juga menjabat ketua Dewan Kebudayaan Kota Jogja itu menyebut jajanan yang ada di tenongan memiliki filosofi tersendiri. “Kehidupan duniawi kan begitu, seperti jajanan pasar yang ada di tenong, penuh warna warni,” jelasnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, jumlah pedagang tenongan mulai berkurang. Hal itu tak lepas dari stigma jajanan pasar dan makanan yang dijual seperti tenongan itu yang terkesan ketinggalan zaman. Menurut Charris, seharusnya tenongan yang merupakan salah satu ciri khas kuliner Jawa, perlu diberi ruang lebih.
Misalnya dijadikan sebagai bagian dari atraksi wisata. Atau juga bisa diadaptasi pada jenis makanan yang dianggap lebih modern dan sedang menjamur saat ini.
Menurut pria berusia 68 tahun ini, kuliner Jawa bukan hanya soal makan lalu kenyang saja. “Seperti kata madang itu yang bisa diartikan sebagai marai padhang,” tandas Charris. (kur/laz) Editor : Editor Content