Kehadiran KRL sudah cukup lama diimpikan kalangan masyarakat, khususnya para penglaju. Bukan hanya dari sisi modernitas rangkaian kereta api, melainkan keramahan kereta ini terhadap penumpang.
“Ini mimpi yang kami dapatkan, kebahagiaan yang luar biasa. Kami bisa mendapatkan fasilitas KRL,” kata perwakilan Komunitas Pramekers Harsya Arya Samudra di sela uji coba KRL Jogja-Solo Rabu (20/1).
Bagaimana tidak, keramahan KRL Jogja-Solo ini terlihat pada rangkaian kereta api yang bernuansa pola batik, sehingga menambah aksen tradisional pada moda transportasi modern ini. Motif batik pada keretaa ini erat kaitannya dengan identitas Jogja.
Demikian pula interior maupun exterior kereta didominasi warna merah, kuning, silver, dan krem. Pintu KRL berwarna merah, hand strap atau pegangan penumpang terlihat mencolok dengan balutan warna kuning. Tempat duduk berwarna cokelat siap menemani pemumpang tujuan Solo ataupun Jogja.
Di atas kereta juga ditempatkan marka-marka, baik berdiri atau duduk. Itu menandakan jumlah total penumpang yang bisa diangkut menggunakan KRL. Interior kereta juga sudah disesuaikan dengan standar protokol kesehatan (prokes) Covid-19.
Ya, uji coba kemarin diikuti sejumlah perwakilan komunitas penglaju yang selama ini memanfaatkan moda transportasi kereta api, media, dan stakeholder terkait. Pada uji coba ini KRL berangkat dari Stasiun Tugu Jogja pukul 13.45 dan tiba di Stasiun Solo Balapan pukul 15.00.
Selanjutnya kembali ke Jogja dari Stasiun Balapan Solo pukul 15.30 dan tiba di Stasiun Jogja pukul 16.45. Selama perjalanan dari Stasiun Tugu, kereta singgah di 10 stasiun yakni Lempuyangan, Maguwo, Brambanan, Srowot, Klaten, Ceper, Delanggu, Gawok, Purwosari, dan berakhir Solo Balapan.
Harsya mengaku tingkat keramahan KRL terhadap penumpang ditunjukkan mulai dari fasilitas di dalam kereta. Di antaranya tempat duduk yang empuk dan nyaman, penanda jarak antarpenumpang yang jelas, AC yang dingin maupun informasi perjalanan yang jelas.
Sedangkan aspek lain menyangkut sistem tiket yang memudahkan penumpang hingga kepastian waktu tempuh. “Karena laju dalam rangka bekerja, ada waktu-waktu yang harus ditepati. Jogja-Solo bisa ditempuh satu jam dan singgah di beberapa stasiun. Dengan AC yang dingin, walaupun kita berdiri selama perjalanan, rasanya juga tidak akan letih,” ujar penglaju sejak 2007 ini.
Dibandingkan dengan KA Prameks yang saat ini masih melayani rute perjalanan, tiket kereta harus dipesan sejak jauh-hari sebelum keberangkatan, serta waktu tempuhnya yang sering tidak pasti. Hal ini karena KA Prameks kerap mengalami persoalan teknis sehingga berdampak pada perjalanan.
“Dengan KRL ini para pekerja profesional di Jogja maupun Solo bisa terfasilitasi, sehingga pekerjaannya akan menjadi lebih optimal. Karena kepastian waktu menjadi hal utama mempengaruhi aktivitas kami,” jelasnya yang menyebut sebelum pandemi penglaju Jogja-Solo atau sebaliknya mencapai 8 ribu.
Sementara penglaju lainnya dari Komunitas Prameks Lovers Mulyaningtyas, berharap kelak ketika resmi dioperasikan, jadwal keberangkatan bisa disesuaikan kebutuhan penglaju. Terutama keberangkatan pada pagi dan sore hari intensitasnya lebih padat. Pasalnya, banyak pekerja maupun pelajar dan mahasiswa yang memanfaatkan pada jam-jam itu. “Sejak lama KRL ini kami nantikan. Bagaimana pun kereta api jadi andalan penglaju Jogja-Solo. Karena waktu tempuhnya lebih cepat jika dibanding menggunakan sepeda motor atau mobil. Semoga nanti untuk jam pagi dan sore, jadwalnya lebih banyak,” harap perempuan 42 tahun.
Persoalan tiketing juga diakuinya jauh lebih simpel. Dengan menggunakan kartu kommuter yang beridentitas Jogja seperti simbol-simbol Tugu, Prambanan, Merapi, dan Stasiun Tugu, maka sepanjang saldonya mencukupi bisa langsung menuju stasiun tanpa harus memikirkan tiket. Minimal top up Rp 10 ribu. Jalur untuk penumpang KRL di stasiun pun diarahkan secara khusus.
VP Corporate Secretary PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Anne Purba selaku pihak operator KRL mengatakan, proses uji coba terbatas akan dilakukan hingga 31 Januari. Kemudian uji coba akan dilanjutkan 1-7 Februari, melibatkan masyarakat penumpang umum dengan tarif Rp 1.
Sebelumnya, penumpang harus registrasi online dengan men-download KRL Accsess dan memiliki kartu kommuter ataupun e-money dan kartu bank. Selanjutnya bisa melakukan uji coba. “Untuk uji coba akan kami batasi, karena masih kondisi pandemi,” katanya.
Setelah uji coba, akan dilakukan dievaluasi terus menerus sebelum benar-benar dioperasikan. Menurutnya, kehadiran KRL ini menjawab kebutuhan masyarakat yang sudah terlalu banyak orang menggunakan angkutan pribadi bisa beralih ke KRL.
Satu rangkaian kereta terdiri atas empat gerbong. Selama pandemi, tiap gerbong maksimal hanya bisa diisi 74 orang. Dari kapasitas normal mencapai 150-200 orang. Dengan kehadiran KRL, kereta Prameks tetap beroperasi dengan rute yang sama. Memang diharapkan ke depan KRL menjadi moda trasnportasi utama tujuan Jogja-Solo maupun sebaliknya. (wia/laz) Editor : Editor Content