Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pagar di Atas Talut Ditinggikan Dua Meter

Editor Content • Senin, 18 Januari 2021 | 14:40 WIB
(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
 

RADAR JOGJA - Berhulu di Kali Boyong, Kali Code jadi salah satu yang harus bersiap. Komunitas Kali Code pun sudah melakukan kesiapsiagaan untuk antisipasi munculnya bencana. Terlebih untuk warga di bantaran sungai di ruas perkotaan yang padat penduduk.

Ketua Pamerti Kali Code Totok Pratopo mengatakan, berbagai persiapan telah dilakukan seperti perkuatan tebing atau talut dalam beberapa tahun terakhir ini. Terutama di ruas perkotaan yang padat penduduk itu. "Kami sudah lakukan kesiapsiagaan. Bahkan pagar di atas talut sudah dibangun relatif tinggi 1-2 meter," katanya Minggu (17/1).

Totok menjelaskan kelembagaan KTB juga telah dibentuk di pinggiran kali Code. Dengan begitu, wilayah kampung-kampung lebih siap atau responsif manakala terjadi banjir lahar atau hujan intensitas tinggi. "EWS Code juga berfungsi baik untuk pemberitahuan kepada warga nggirli (pinggir kali) jika peningkatan debit sungai di bagian hulu agak ekstrem," ujarnya.

Namun demikian, yang menjadi catatan ialah dalam skala lebih makro atas dasar pengamatan terhadap kondisi morfologi sungai Code sejak lahar hujan 2010-2011 yang lalu. Seperti adanya potensi longsor tebing masih menjadi ancaman khususnya di wilayah yang bertebing. Dicontohkan di RW 1 Terban Kemantren Gondokusuman. "Jika hujan intensitas tinggi, pada daerah-daerah yang mengalami penyempitan bentang sungai, potensi air masuk ke perkampungan masih cukup tinggi. Kalau badan sungai terisi material lahar hujan," jelasnya.

Menurutnya, hal itu disebabkan karena sejak lahar hujan sebagai dampak erupsi Gunung Merapi 2010 lalu di Kali Code belum ada upaya serius dalam memperlebar bentang sungai. Hal ini dikarenakan membawa konsekwensi penataan permukiman nggirli tersebut yang agak berat. Dan ini masih terkendala oleh banyak hal. "Termasuk penyediaan tanah oleh pemerintah untuk rumah-rumah susun atau semacamnya yang masih sulit," terangnya.

Padahal, penataan permukiman nggirli paska lahar hujan terdahulu, sebenarnya sudah direkomendasikan oleh Tim Ahli Kajian Dampak Lahar Hujan Erupsi Merapi oleh Dinas PUP-ESDM DIJ 2012. Sehingga diklaim, tetap akan menjadi masalah besar jika tidak dilakukan pelebaran bentang sungai. "Tetap jadi masalah besar karena peninggian talut sungai itu tidak menambah dimensi sungai untuk menampung lahar. Tetap akan meluap ke perkampungan," tandasnya.

Antisipasi sementara, lagi-lagi menyusun skenario penyelamatan. Peta bencana berbasis kampung sudah dibuat oleh tiap KTB di kampung masing-masing untuk mencegah timbulnya korban jiwa. "Jadi sudah kami buat jalur evakuasi, lokasi pengungsian warga terdampak, posko banjir level kampung, dapur umum, dan lain-lain," imbuhnya. (wia/pra)  Editor : Editor Content
#EWS Code #kali code #Kali Boyong