MEITIKA CANDRA LANTIVA, Radar Jogja, Sleman
Lokasinya di Jalan Godean, Km 9 Mandungan 1, Kalurahan Margoluwih, Seyegan, Sleman. Joglo Tani berdiri di lahan sekitar 2 ribu meter persegi. Tak jauh dari kediaman To Suprapto, 63.
Masuk ke Joglo Tani ini, harus melalui jalan sempit. Dikelilingi kolam ikan air tawar. Ada lele, gurami, bawal dan nila. Di kolam tersebut juga ada mina padi dengan sistem terapung dan konvensional. Ada pula panggung joglo yang biasa digunakan untuk berdiskusi sekaligus pelatihan edukasi pertanian. Di sisi kanan dan kiri terdapat beragam tanaman sayur. Mulai umbi-umbian, tanaman holtikura, tanaman hias hingga tanaman buah.
Di belakang joglo tampak rumah persinggahan bagi mahasiswa yang sedang menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di lokasi. Lanjut di sisi timur bangunan itu, berderet kandang unggas. Ada ayam dan bebek. Lalu ke belakang ada berbagai macam tanaman sayur. Ada yang menggunakan metode hidroponik, ada pula penanaman konvensional.
“Di sinilah saya bereksperimen,” ungkap To saat ditemui Radar Jogja di rumahnya belum lama ini. Lanjut dia, mulai dari menciptakan ketahanan pangan, kemandirian pangan hingga kedaulatan pangan.
Bermula menanam sayur. Lalu timbul pembibitan, produksi, hingga pertanian berkelanjutan dan terpadu. Lengkap. Pertaniannya mulai dari tanaman yang dikonsumsi dari akar, batang, daun, buah hingga bunga semua lengkap.
“Sementara ini Joglo Tani masih tahap pemindahan lokasi baru yang lebih luas,” ungkap To sembari menunjukkan Joglo yang tahap pemindahan ini.
Ia mengatakan, bertani menjadi solusi berdaulat pangan. Terlebih saat pandemi ini. Di mana ekonomi jeblok dan banyak korban pemutusan hubungan kerja (PHK). Jika warga bijak bertani, mengasah kreativitas bertani, maka ketahanan pangan untuk keluarga bisa terjaga. Artinya kebutuhan dapur lebih hemat.
Dia menjelaskan, Joglo Tani sebagai monumen kebangkitan pertanian Indonesia, memiliki 10 indeks penghasilan. Ada harian pagi, dari penghasilan telur bebek. Harian siang telur ayam, malam hari jualan angkringan. Seminggu sekali penghasilan dari telur asin. Sebulan sekali sayuran. Dua bulan sekali tanaman holtikutura berupa cabai, terong dan tomat. Lalu tiga bulan ikan. Empat bulan padi. “Enam bulan sapi ataupun kambing. Satu tahun anaknya sapi,” beber To.
Dari situlah perekonomian dapat berrputar. Bahkan jika diestimasi, hasilnya tak jauh dari pengasilan pegawai negeri. “Di pandemi ini, bertani banyak diminati. Semakin menjanjikan,” terangnya.
Di balik sosoknya, To rupanya mantan pesepak bola. Saat muda dia bergabung di klub PSIM Jogja. Lantas keluar dan bergabung ke PSS Sleman pada 1974. Pada 1985, dia menjadi wasit hingga 1990.
Nah pada 1989 To tertarik mengikuti Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Dia merupakan dua di antara 25 orang yang terjaring mewakili desanya dalam program ini.
Lalu dia juga masuk dalam program sejuta petani terpadu. Program kerja sama dari Kementerian Pertanian dengan FAO. Program ini skala nasional, tersebar di 13 provinsi, selama 10 tahun. To kala itu juga berprofesi sebagai guru pertanian di Yayasan Probosutedjo, milik adik tiri mantan Presiden Soeharto.
Lalu dia rela melepaskan profesinya dan memilih menjadi pengurus Ikatan Petani dan Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHT) hingga sekarang. Kendati begitu, pilihannya tak meleset. Dia tetap menjadi guru pertanian di Joglo Tani. Dia sudah mendampingi soal pertanian di berbagai daerah, bahkan luar negeri.
“Selama pandemi ini banyak permintaan pendampingan luring dan daring. Saya semakin sibuk,” ungkapnya. (laz) Editor : Editor Content