Hal itu dibenarkan Partini, salah seorang penjual kerajinan tanah liat di sentra kerajinan gerabah Kasongan, Bantul. Wanita 50 tahun ini mengatakan, permintaan celengan jadul sampai saat ini masih tinggi. Namun diakui peminatnya hanya sebatas sekolah atau organisasi saja.
Dikatakan wanita yang sudah berjualan gerabah sejak 80-an itu, celengan jadul banyak dibeli oleh sekolah dan organisasi sebagai bahan ajar kerajinan tangan untuk anak-anak. Rata-rata per bulan, pemilik toko Citra Keramik ini bisa menjual lebih dari 100 celengan dengan harga jual Rp 5.000 per biji.
“Untuk celengan jadul sampai saat ini masih laku, tapi sesuai pesanan. Untuk pemesanannya kebanyakan dari sekolah dan digunakan kerajinan anak-anak. Seperti lukisan dan sebagainya,” terang Partini saat ditemui Radar Jogja, Jumat (31/12).
Ia melanjutkan, permintaan terhadap celengan jadul itu juga tidak hanya terbatas di wilayah Jogjakarta saja. Tetapi juga diminati oleh pembeli dari Jawa Tengah, Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Ia mengenang, sekitar tahun 1980-an hingga 2000-an merupakan masa jaya bagi celengan gerabah itu. Sebab, kala itu banyak anak-anak yang mengandalkan celengan itu sebagai media penyimpanan uang.
Namun sekarang, anak-anak lebih banyak menyukai model celengan yang lebih modern. Seperti celengan berbentuk ayam, kucing, dan babi. Bahkan ada beberapa permintaan untuk celengan berbentuk mobil-mobilan. “Untuk saat ini yang banyak diminati celengan bentuk ayam, kucing, dan babi,” ungkap Partini. (inu/laz) Editor : Editor Content