Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dibuat Grup dan Wajib Pakai Guide

Editor Content • Rabu, 30 Desember 2020 | 13:19 WIB
TAAT PROKES: Wisatawan dengan mengenakan masker menyusuri lorong bawah tanah objek wisata Tamansari, (29/12).(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
TAAT PROKES: Wisatawan dengan mengenakan masker menyusuri lorong bawah tanah objek wisata Tamansari, (29/12).(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Destinasi wisata Tamasari Jogja tak pernah luput dari wisatawan pada momentum liburan. Dalam situasi pandemi Covid-19, wiastawan tetap memadati kawasan wisata Keraton Jogja itu pada libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Pantauan Radar Jogja Selasa (29/12), tidak sedikit mobil berpelat nomor kendaraan luar daerah terparkir di halaman pintu timur Tamansari hingga kawasan luar. Wisatawan dari berbagai kelompok mengambil posisi antrean dan berjarak. Mereka sedang menunggu giliran untuk bisa masuk ke wisata bangunan bersejarah Kasultanan Jogja itu.

Pihak pengelola telah menerapkan protokol kesehatan (prokes) sangat ketat bagi wisatawan yang akan masuk ke area Tamansari. Agar tidak ada potensi penularan virus korona dan pengunjung yang datang bisa merasa aman serta nyaman. Maka tidak hanya prokes mutlak mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan skrining suhu tubuh.

“Protokol kesehatan yang kami terapkan selain cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, kami buat kelompok atau grouping,” ujar salah seorang pengelola Tamansari, Ridwan, kepada Radar Jogja di Tamansari, Selasa (29/12).
Dengan adanya kelompok ini otomatis terbatas orang yang akan melakukan perjalanan ke area Tamansari. Karena ada interval atau jeda antargrup satu dengan lainnya, sekitar 2-3 menit. Hal ini bertujuan agar wisatawan tidak berkerumun di dalam Tamansari dan tidak saling berpapasan.

Dengan demikian, efeknya terdapat antrean panjang di pintu masuk Tamansari. Awal penerapan prokes ini tak sedikit adanya komplain dari pengunjung. “Antusias di depan kan banyak yang mengantre. Banyak tamu yang mundur karena tidak mau mengantre. Di sini kami ajarkan edukasi juga, kalau mau senang-senang dan bahagia yuk antre dan jaga kesehatan,” ujarnya.

Perjalanan dalam satu grup berisi 10 orang itu sekitar selama satu jam. Dalam satu grup bisa diisi keluarga yang berbeda maupun wilayah berbeda. Namun selama perjalanan tidak boleh bersentuhan, harus ada jaga jarak.

Bagaimana pengawasan agar prokes yang ketat ini bisa dijalankan? Terdapat sekitar 60 guide atau pemandu wisata yang akan mengantarkan wisatawan mengelilingi area Tamansari. Setiap perjalanan wajib dilengkapi guide berasal dari masyarakat sekitar yang berpuluh tahun ada dan paham sejarah Tamansari.

Mereka tidak sekadar menjelaskan tentang sejarah, melainkan mengingatkan ketika prokes abai dijalankan. “Sekarang setiap grup wajib pakai guide. Guide fungsinya juga untuk mengawasi gerak gerik mereka, jangan sampai berdekatan dengan yang lain dan berbaur dengan masyarakat sekitar,” jelasnya.

Selain guide juga ada tim support yang dilengkapi alat komunikasi radio HT. Tanda larangan tidak berbentuk media visual, melainkan puluhan tim support yang disebar di berbagai titik kawasan area Tamansari berfungsi sebagai tanda larangan bersuara. “Karena kalau hanya tulisan kurang efektif. Mereka seperti polisinya kalau di jalan lalu lintas,” terangnya.

Waktu operasional buka masih seperti biasa pukul 09.00-15.00. Hanya ada pembatasan setiap perjalanan wisata, kurang lebih satu jam. Tiket masuknya pun masih sama Rp 5 ribu. Namun ada penambahan Rp 10 ribu untuk memastikan pengunjung merasa aman dan nyaman. Sehingga tiket masuk menjadi Rp 15 ribu per orang untuk 10 orang dalam satu kelompok. “Dulu karena nggak pakai guide sekarang harus. Ini untuk menjaga mereka disiplin prokes,” tambahnya.

Ada satu kawasan yang masih ditutup yaitu Sumur Gumuling. Di samping untuk menjaga kesakralan, juga mencegah potensi penularan yang tinggi. Sebab, kawasan itu berada di bawah tanah dengan sirkulasi udara sangat kecil. “Sangat berbahaya masa pandemi ini. Bisa berpotensi tinggi terhadap penularan,” katanya.

Sementara kawasan lain yang dibuka adalah Gedhong Madaran, Gedhong Sari, Gedhong Sekawan, terowongan, umbul, Pulo Cemeti, dan lain-lain.
Ditambahkan, selama libur Nataru kali ini tidak terjadi peningkatan kunjungan yang signifikan, namun peningkatan yang stabil. Dibandingkan dengan liburan di bulan Agustus-Oktober lalu, kenaikan kunjungan rata-rata 800-1.000 orang dalam satu hari.

Paling banyak kunjungan libur Natal kemarin mencapai 1.200 pada Minggu (27/12) lalu. Rata-rata kendaraan pengunjung dominan dari wilayah Jateng dan Jatim. “Jadi program kerja pandemi ini sebagai edukasi dan kesadaran mereka supaya tertib. Mereka sadar mau disiplin, otomatis tertib dan pasti mereka akan nyaman. Jelang tahun baru ya kami tetap terapkan ini,” tambahnya.

Sementara itu wisatawan dari Kebumen Indah menyambut baik adanya prosedur prokes saat hendak memasuki area Tamansari. Dia tengah mengantre bagian paling belakang bersama tiga temannya. Meski prosedur ini dinilai terlalu ribet, perempuan 20 tahun itu mengklaim mekanisme yang dilakukan Tamansari itu bisa menjamin dirinya aman dan nyaman saat berwisata.

“Saya sudah berkali-kali ke sini. Ya lama memang pakai antre gini. Tapi kalau memang peraturannya begitu, nggak papa toh buat kebaikan semua, apalagi masih ini pandemi korona,” katanya. (wia/laz) Editor : Editor Content
#nataru #Destinasi wisata Tamasari #Pandemi Covid-19 #Jogja