Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Sugeng Darmanto mengatakan, tidak adanya kendaraan bermotor yang melintas padat, menjadi faktor utamanya. Beberapa indikator membaiknya kualitas udara Malioboro itu antara lain minimnya CO2, atau karbondioksida, yang tersebar di sana. "Indikatornya memang seberapa banyak CO2 yang tersebar. Tapi, ada beberapa komponan lain yang menjadi rujukan ya, bahwa ada perbaikan kualitas udara di Malioboro, tak cuma CO2 saja," katanya Senin (9/11).
Namun demikian, penurunan kadar CO2 di kawasan Malioboro selama masa uji coba semipedestrian ini tidak terlalu signifikan. Sebab terjadi pergeseran di tempat lain yang menjadi dampak penumpukan kendaraan seperti Jalan Mataram, Jalan Gandekan, Jalan Letjen Suprapto. Otomatis sebaran karbonnya bergeser. "Secara umum kami monitoring Malioboro rendah jelas turun, tapi justru di sisi lainnya tinggi," ujarnya.
Menurut dia, kebijakan uji coba semi pedestrian tersebut memang mempengaruhi kualitas udara di Jalan Malioboro semakin membaik. Namun, meningginya tingkat polusi di jalan-jalan sampingnya pun tidak bisa dihindari. "Jadi yang berkurang (sebaran CO2-nya) hanya di sepanjang jalan Malioboro saja. Makanya, saya bilang ini bisa disebut sebagai pergeseran ya itu tadi," tambahnya.
Kepala UPT Lab Pengujian Kualitas Lingkungan, DLH Kota Jogja, Sutomo menambahkan terakhir pengukuran kualitas udara di sekitar Malioboro dilakukan pada Agustus lalu. Dalam periode satu tahun hanya terdapat dua kali pengukuran. Titik pengukuran berada di sekitar Kantor Kepatihan, bekas kantor UPT Malioboro dan Titik Nol Kilometer serta simpang Ngabean. "Setelah uji coba semipedestrian ini belum ngukur ke sana. Tapi secara umum sama tidak ada yang berubah signifikan (kualitas udaranya) dengan sebelumnya," imbuhnya. (wia/pra) Editor : Editor Content