Penghageng KHP Kridhomardowo Keraton KPH Notonegoro menuturkan album ini merupakan lanjutan dari album sebelumnya. Peluncuran dilakukan bertepatan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia. Sehingga total Gendhing yang telah digarap mencapai 51 Gendhing.
"Volume II ini ada dua Gendhing baru, yaitu Gendhing Gati Taruna dan Gendhing Gati Bhinneka. Target kedepannya masih bisa 2 album lagi. Mungkin tahun depan digarap seluruhnya," jelasnya, ditemui di Kagungan Dalem Bangsal Mandalasana Kraton Jogja, Rabu sore (28/10).
Karya terbaru ini menampilkan kolaborasi apik antara gamelan yang diusung abdi dalem Wiyaga dengan abdi dalem Musikan yang memainkan instrumen musik barat. Tersaji dalam Gendhing Gati Taruna maupun Gendhing Gati Bhinneka.
Kanjeng Noto, sapaannya, turut menjelaskan sejarah terciptanya kedua Gendhing. Berawal dari perintah Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10. Untuk membuat Gendhing dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda.
"Saat perayaan kemerdekaan Indonesia kemarin merilis Gendhing Gati Mardika. Atas dhawuh Ngerso Dalem (HB ka 10) untuk membuat dua gendhing baru dalam rangka Hari Sumpah Pemuda," tuturnya.
Menantu HB ka 10 ini langsung membentuk tim. Menugasi abdi dalem bernama MW Susilomadyo untuk mereka-reka komposisi Gendhing Gati Taruna. Sementara untuk Gendhing Gati Bhinneka menjadi tanggungjawab RP Ngeksibrongto.
"Jadi kedua gendhing baru ini sudah dicaoske dan diterima sebagai Yasan Dalem atau ciptaan di masa Ngerso Dalem yang sekarang bertahta," ujarnya.
Gendhing Gati Taruna memiliki ciri khas ceria dan bahagia. Tercermin dari permainan instrumen tiup trompet. Memiliki ciri suara instrumen poliponik. Berupa repertoar lagu yang memiliki dua suara, yaitu suara I dan II.
Sedangkan Gendhing Gati Bhinneka memiliki aneka ragam irama dan melodi. Gendhing ini mempunyai berbagai kekhasan dan keunikan. Berupa pangkat buka atau adangiyah oleh bonang barung yang berkolaborasi dengan balungan seperti Gendhing Sekaten.
"Pangkat buka dilanjutkan dengan alunan alat tiup barat yang disertai buka kendhang. Komposisi lagu dari alat tiup barat juga beraneka ragam. Selain itu juga terdapat penambahan instrumen ketipung, dog-dog, dan kecer," katanya.
Keenam belas Gendhing dalam album terbaru ini diantaranya Gati Bhinneka, Gati Branta Wiwaha, Gati Buntal, Gati Harjuna Asmara, Gati Jendral, Gati Kapten dan Gati Kingkin.
Ada pula Gati Komis, Gati Kuda, Gati Mandra, Gati Marinir, Gati Padhamara, Gati Priya, Gati Taruna, Gati Usar, dan Gati Weni. Kanjeng Noto berharap karya ini dapat menjadi wawasan bagi generasi muda. Terutama untuk mengenal ragam Gendhing klasik dalam kemasan yang lebih segar.
"Gendhing ini juga bisa dinikmati di berbagai platform musik seperti Spotify dan iTunes. Juga ada di Youtube Channel Keraton Jogja," ujarnya. (dwi/tif) Editor : Editor News