Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Makan Ubi, Jangan Hanya Nasi

Editor Content • Kamis, 20 Agustus 2020 | 16:17 WIB
ELANG KHARISMA DEWANGGA / RADAR JOGJA
ELANG KHARISMA DEWANGGA / RADAR JOGJA
RADAR JOGJA - Pemprov DIJ mengklaim sektor pertanian mengalami pertumbuhan signifikan selama pandemi Covid-19. Kesempatan untuk mencanangkan gerakan diversifikasi pangan lokal sehingga pertumbuhan ekonomi pertanian dapat lebih meluas.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setprov DIJ Tri Saktiyana menjelaskan, pandemi Covid-19 tak memberikan dampak berarti pada aktivitas pertanian. Badan Pusat Statsitik (BPS) justru mencatat terjadi pertumbuhan sebanyak 16,4 persen di sektor pertanian.

Pertumbuhan sektor ini diharap dapat menambal sektor lain yang pertumbuhannya negatif. Sehingga dapat mencegah terjadinya resesi ekonomi di DIJ. "Jadi pertumbuhan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) kita lebih sehat," katanya di Kompleks Kepatihan Rabu (19/8).

Photo
Photo
ELANG KHARISMA DEWANGGA / RADAR JOGJA

Dia melanjutkan, pertumbuhan juga bisa dijadikan momentum untuk mencanangkan gerakan diversifikasi pangan lokal. Sehingga pertumbuhan ekonomi pertanian menjadi lebih luas. Saktiyana berharap agar ketergantungan masyarakat terhadap komoditas beras dapat ditekan. "Tidak makan beras raja lele itu biasanya dianggap warga negara kelas dua tapi justru makan makanan non beras lebih sehat karena kandungannya lebih baik sehingga makan non beras bisa jadi gaya hidup baru dan gaya hidup sehat," paparnya.

Mantan Kepala Bappeda Bantul itu mengimbau masyarakat untuk menerapkan tren hidup sehat, di mana konsumsi makanan non beras lebih diutamakan. "Nasi itu bisa dari jagung dan dari ubi. Ini bisa menumbuhkan ekonomi pertanian lebih luas lagi," katanya.

Wakil Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIJ Syam Arjayanti menjelaskan, ketersediaan kebutuhan pangan non beras mengalami surplus sekitar 800 ribu ton pertahunnya. Namun tingkat konsumsinya masih sangat minim. Produksi umbi-umbian rata-rata baru dimanfaatkan untuk pakan ternak. "Konsumsi umbi-umbian per tahun seperti umbi kayu jalar dan jagung masih 12 kg," jelasnya.

Khusus ubi jalar, produksinya masih kurang. Hanya sekitar lima ribu ton pertahun. "Ubi jalar memang masih kekrunagan. Jagung dan ubi kayu masih surplus," ucapnya.

Saat ini, pihaknya tengah mengembangkan teknologi pengolahan umbi-umbian yang ada di DIJ. Sebab tanaman non beras umumnya merupakan tanaman musiman. Sehingga dibutuhkan teknologi penyimpanan yang mumpuni."Misalnya ubi kayu butuh waktu sembilan bulan untuk panen," katanya.

Saat ini DPKP DIJ tengah fokus mengajak petani untuk membuat bahan pangan olahan dari komoditas non beras. Sehingga produk memiliki harga jual yang tinggi. "Mereka bisa memproduksi dari bahan mentah ke produk yang menguntungkan," urainya. (tor/pra) Editor : Editor Content
#produk domestik regional bruto #Pemprov DIJ #Pandemi Covid-19 #Jogja