Memproduksi sendiri juga tidak bisa karena tidak ada pasar yang mau menerima produk. Jalinan kerja sama yang sudah dibangun sementara juga terhenti, karena warung atau tempat yang dititipi menolak karena tidak ada pembelinya. “Pokoknya selama Covid-19 ini macet semua. Macet...cet,” ujar Jilah Setyaningsih, pembuat aneka keripik dari Desa Pekutan, Bayan, Purworejo, Rabu (12/8).
Keluarga yang hanya mengerjakan usaha kecil dari satu sisi saja bisa tetap bertahan. Setidaknya pasangan masih bisa eksis di jalur pekerjaan yang lain. Namun jika pasangan suami istri murni bekerja di sektor usaha kecil bersama, tidak akan berdaya sama sekali. “Modal yang ada itu benar-benar habis. Bukan untuk usaha, tapi menutup kebutuhan sehari-hari,” tambah Jilah.
Dia mengaku masih beruntung karena suaminya bekerja di proyek yang tetap berjalan selama pandemi Covid-19 ini. Setidaknya untuk menutup kebutuhan sehari-hari masih bisa ditopang dari suaminya. “Saya punya pinjaman di bank, dan 2-3 bulan kemarin benar-benar tidak bisa setor. Bagaimana mau setor, barang jualan saya lakunya sedikit sekali,” ungkapnya.
Bekerjasama dengan toko modern, jika sebelum pandemi bisa menjual lebih dari 30 pieces, dalam Covid-19 ini dia hanya mampu menjual enam bungkus saja selama sebulan. “Hanya laku segitu, mau makan dari mana,” katanya lirih.
Beruntung ada program pemerintah yakni Jaring Pengaman Ekonomi yang diwujudkan dalam bentuk uang. Itu dijadikannya modal awal lagi untuk membeli berbagai kebutuhan dan memulai usaha. “Ada hikmah yang bisa dipetik selama pandemi. Karena kita harus memutar otak untuk bisa menjual, sementara di luar barang juga tidak terbeli. Akhirnya memang kita harus bisa berjualan secara online,” ungkap anggota Forum UMKM Purworejo ini.
Kini, walaupun belum sepenuhnya normal, Jilah mengaku sudah bisa memulai usaha. Dia tetap optimistis jika pasar akan kembali pulih. Satu hal lagi adalah, ada cara baru penjualan yang dijalani yakni secara online.
Ambruk, Walaupun Tak Sampai Bangkrut
Walaupun mengalami penurunan usaha selama pandemi, hanya beberapa usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang menyatakan bangkrut. Mereka memang memilih berhenti berproduksi untuk kembali memulai saat situasi sudah membaik. “Memang ada yang bangkrut, cuman ada alasannya di mana mereka baru mulai berusaha atau belum mapan,” kata Kepala Seksi Kelembagaan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Din KUKMP) Purworejo Nurhadi Trionggo.
Dia menyebut di Purworejo tercatat ada 27.000 pelaku UMKM. Dari angka itu sektiar 23 persen yang harus berhenti berusaha. Sementara sisanya tetap berproduksi walaupun penuh keterbatasan. “Selama tanggap darurat lalu memang semua terganggu. Dan yang paling terdampak di sektor kuliner. Tapi pelan-pelan semua bisa menyesuaikan diri dengan keadaan,” ungkap Onggo, panggilannya.
Sisi positif yang bisa dipetik adanya pandemi ini adalah adanya perubahan pola pikir para pelaku usaha. Jika dulunya cenderung abai dengan teknologi informasi, pelan-pelan mereka mulai berusaha mengenalnya. “Harus diakui jika pola penjualan dengan teknologi informasi saat ini memang menjadi kunci dari keberhasilan produksi selama pandemi,” katanya.
Onggo menyebut pelaku usaha bisa melihat pertumbuhan penjualan setelah mereka memanfaatkan internet untuk berusaha. Demikian halnya dengan sistem COD (cash on delivery) yang diberlakukan juga dikomunikasikan melalui seluler yang dimiliki.
“Kita sendiri juga tidak diam diri selama pandemi. Banyak program kita lakukan untuk mengangkat moral para pelaku usaha. Seperti adanya bantuan, pengalihan usaha, maupun kurasi produk UMKM dimana kita membuka kerjasama dengan bandara di Jogja untuk bisa membuka galeri produk UMKM Purworejo,” tambah Onggo.
Satu terobosan baru yang dilakukan adalah pembukaan showroom UMKM yang memanfaatkan bangunan rumah dinas milik Kodim 0708/ Purworejo. Launching baru dilakukan Rabu (12/8) atau mundur beberapa bulan dari rencana awal di bulan Februari-Maret.
“Showroom ini kita gunakan untuk memajang produk UMKM di Purworejo. Untuk pengelolaannya kita kerjasamakan dengan PDAU Purworejo,” tambah Onggo. (udi/laz) Editor : Editor Content