Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cuaca Dingin karena Gerak Semu Matahari

Editor Content • Senin, 3 Agustus 2020 | 16:16 WIB
HANGATKAN BADAN: Warga membuat api unggun di Desa Blotan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Sabtu (1/8). Menurut BMKG suhu udara di DIJ terasa dingin karena adanya angin timuran (Muson Australia) bertiup menuju Indonesia.( ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
HANGATKAN BADAN: Warga membuat api unggun di Desa Blotan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Sabtu (1/8). Menurut BMKG suhu udara di DIJ terasa dingin karena adanya angin timuran (Muson Australia) bertiup menuju Indonesia.( ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
RADAR JOGJA - Menjelang puncak musim kemarau, kondisi cuaca dingin yang disebabkan posisi dari gerak semu matahari di belahan bumi utara. Sedangkan saat ini Indonesia yang berada di belahan bumi selatan mengakibatkan lebih sedikit energi radiasi matahari.

Pakar iklim dari Fakultas Geografi UGM Andung Bayu Sekaranom menjelaskan, tidak hanya dari radiasi matahari, keseimbangan energi di bumi juga bersumber dari radiasi gelombang panjang uang dikeluarkan bumi.

Jika kondisi cenderung berawan, sebagian radiasi akan dipantulkan kembali ke permukaan bumi dan menyebabkan temperatur menjadi lebih hangat. Namun jika cuaca cerah, radiasi akan hilang sampai ke luar angkasa sehingga temperatur menjadi lebih dingin.

Andung menambahkan, kondisi kemarau tahun ini cenderung lebih lembab dibandingkan kondisi rata-ratanya. Setelah tahun kemarin kemarau berkepanjangan akibat El Nino lemah, tahun ini curah hujan cenderung lebih tinggi. “BMKG memprediksi puncak musim kemarau pada bulan Agustus sehingga bulan September sudah mulai hujan,” jelas Andung (30/7).

Iklim yang berubah saat ini, tambah Andung, dipengaruhi oleh peningkatan gas rumah kaca di atmosfer akibat aktivitas manusia seperti transportasi dan industri. Terjadi pula kenaikan temperatur hingga 0,3 derajat Celcius per dekade dan diprediksi terus meningkat higga mencapai 1-2 derajat pada tahun 2100. Selain temperatur, frekuensi curah hujan ekstrem juga meningkat dan perubahan musim menjadi semakin tidak pasti.

Dampak yang dirasakan adalah banjir yang semakin meningkat pada musim penghujan. Tidak jarang hujan lebat juga mengakibatkan bajir bandang dan longsor yang semakin sering. Sedangkan beberapa dekade, musim kemarau menjadi semakin kering dan kejadian kebakaran hutan juga semakin meningkat. “Sementara untuk dampak pertanian, petani semakin kesulitan menentukan awal dan akhir masa tanam. Sering masa tanam padi belum selesai tapi kondisi sudah kering, sehingga mengakibatkan gagal panen," tambahnya.

Meskipun prediksi musim kemarau tidak terlalu parah sebagaimana tahun sebelumnya, Andung tetap mengimbau masyarakat di lokasi rawan kekeringan untuk menghemat air. Masyarakat bisa melakukan konservasi secara sederhana. Misalnya dengan menanam pohon dan membuat resapan air. “Sehingga saat musim kemarau kondisi tidak akan kering,” ungkapnya.

Meskipun masih ada potensi kebakaran hutan dan lahan, tambah Andung, jumlahnya akan lebih rendah. Sehingga diimbau kepada masyarakat untuk tidak sembarangan membakar sampah ataupun membuang puntung rokok di daerah yang kering.

Hemat Air, Cuci Tangan Bisa Pakai Hand Sanitizer

Pandemi Covid-19 ini menuntut masyarakat untuk terus menjalankan protokol kesehatan. Salah satunya mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Namun demikian masyarakat harus tetap bijak dalam menggunakan air.

Wakil Ketua Sekretariat Gugus Tugas Pemerintah DIJ untuk Penanganan Covid-19 Biwara Yuswantana menyebutkan, penggunaan air saat mencuci tangan juga harus bijak. “Saat kemarau memang harus hemat air. Artinya menggunakan air harus sesuai keperluan,” jelasnya saat dihubungi Radar Jogja (31/7).

Masyarakat harus paham dan sadar jika musim kemarau, air biasanya akan susah. Untuk itu saat mencuci harus meminimalkan dalam membuka keran. Artinya, tidak perlu menyalakan keran terus menerus saat mencuci tangan. Keran dibuka hanya ketika membilas tangan saja.

Dengan begitu, air tidak akan terbuang terlalu banyak. Sehingga, penghematan air dapat dilakukan tetapi menjalankan protokol kesehatan juga tetap berjalan. Karena pandemi menuntut masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, kapan dan di mana pun.“Ya, yang penting bisa bersih dan dilakukan pada saat yang tepat. Atau kalau perlu dan memungkinkan pakai hand sanitizer atau tisu basah,” imbau kepala Pelaksana BPBD DIJ ini.

Hal serupa juga disampaikan pakar epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad. Saat kemarau, masyarakat harus bisa berhemat air. “Gunakan air seefisien mungkin sesuai dengan kebutuhan,” tandasnya. (eno/cr1/laz) Editor : Editor Content
#Gerak Semu Matahari #Cuaca Dingin #Fakultas Geografi UGM #BMKG #Jogja