"Apakah ada problem rasisme di Kota Pelajar ini? Kita tidak boleh diam, melalui beberapa forum diskusi terungkap bahwa rasisme di Jogja tidak bersifat kultural. Rasisme hadir sebagai warisan dari budaya kolonial yang bersifat struktural," ujarnya.
Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan suatu ruang dialog yang terbuka dan berbaur dengan masyarakat. Salah satunya melalui silaturahmi budaya. Tujuannya untuk menyuarakan perdamaian, keberagamam, keadilan, kesetaraan, dan anti rasisme. Karena masih dalam situasi pandemi Covid-19, kegiatan ini menerapkan protokol kesehatan dan tidak melibatkan terlalu banyak orang . Perwakilan mahasiswa daerah yang ikut di antaranya dari Ciamis, Mandar, Jateng, dan Papua.
"Dalam benak masyarakat sudah tertanam stereotip bahwa orang Papua itu susah diatur dan diberi penjelasan, suka bikin onar, pemabuk, dan persepsi buruk lainnya. Konflik rasisme harus dilihat secara obyektif, agar diketahui betul permasalahannya yang paling mendasar. Agar keutuhan NKRI tetap terjaga, karena persatuan tidak mungkin terwujud jika rasialisme masih tumbuh subur di negeri ini," beber Shodiq.
Mahasiswa UNY asal Asmat, Papua, Basilius Mindipko menilai kegiatan ini tidak sekadar pertunjukan, tapi ada semangat solidaritas dan kegotongroyongan yang melandasinya. Agar bisa saling mengenal lebih dalam budaya masing-masing.
"Harapannya masyarakat bisa saling menghargai setiap perbedaan, keberagaman haruslah dipandang sebagai keindahan. Dengan interaksi bersama warga, harapannya bisa saling terbuka dan memahami tentang keberagaman budaya di Indonesia. Kita semua satu, di sini kita lahir, di sini rumah kita, Jogja rumah kita," ungkapnya. (sky/tif)
Editor : Editor News