Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Aris Eko Nugroho memastikan pembangunan sesuai perencanaan awal. Menggunakan dana keistimewaan sebesar Rp 2,3 miliar, pembangunan pagar ditargetkan rampung akhir Juli. Pagar tersebut mengelilingi penuh kawasan alun-alun utara.
"Pintunya nanti di sisi utara, barat tepat depan pintu masuk Masjid Kauman dan sisi selatan yang berhadapan langsung dengan Pagelaran Kraton. Sudah hampir selesai proses pembangunannya," jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Rabu (15/7).
Pembangunan pagar mengacu pada sebuah lukisan karya A de Nelly. Lukisan yang tertanggal tahun 1771 itu menggambarkan kondisi alun-alun utara kala itu yang memiliki pagar dua lapis yang mengelilingi alun-alun utara.
Diakui olehnya acuan ini tak sepenuhnya bisa diterapkan. Salah satunya adalah ketinggian pagar setinggi manusia.
"Selain pagar, sampai hari ini belum tahu apakah lapangan jadi pasir. Bapak (Sri Sultan Hamangku Bawono ka 10) ngendika jangan sama persis. Nanti rumput atau apa belum tahu. Tapi kalau nama pasirnya malelo," katanya.
Terkait pemanfaatan, Aris hanya menyarankan pemanfaatan alun-alun utara tetap melalui prosedur mengajukan izin kepada pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
"Setelah dipagar, lari di sekeliling (sisi luar) itu tidak masalah. Kalau halaman rumah (sisi dalam) ada izin kan ya boleh. Tentunya ke Keraton," ujarnya.
Terkait pembangunan, tetap melalui diskusi. Terutama antara Keraton Jogja dengan Dinas Kebudayaan DIJ. Ini karena pembangunan pagar memanfaatkan anggaran danais. Walau untuk penyelenggara lelang tetap dilakukan oleh Keraton.
Aris memastikan proses pembangunan tetap melalui proses lelang. Bedanya dalam tahapan ini mengacu pada regulasi yang dikeluarkan oleh Kraton Jogja. Berupa pedoman langkah pengadaan barang dan jasa.
"Prosesnya sama seperti lelang biasa. Ada pedoman pengadaan itu ada aturan regulasi disana. Penyelenggara lelangnya Kraton," katanya.
Pembangunan pagar juga mengacu pada buku Serat Tuntunan Padalangan karya M.Ng. Nojowirongko a.l Amotjendono keluaran 1948. Konsepnya mirip dengan Pagelaran Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Berupa pagar berbahan besi dengan motif pacak suji.
"Warna disamakan dengan warna pagar pacak suji pagelaran atau warna hijau pareanom," ujarnya. (dwi/tif) Editor : Editor News