"Kita bisa belajar dari negara lain. Semuanya punya pengalamanan, meskipun tidak bisa disamakan dengan kita yang memiliki luas wilayah, jumlah kepulauan, dan dinamika pendudukanya. Proses belajar tidak mengulangi kesalahan negara," ujarnya.
Agus mencontohkan, beberapa negara mengetatkan kembali protokol kesehatan karena jumlah penderita Covid-19 meningkat. Hal ini seperti dialami sejumlah negara yang sempat membuka sekolah.
Untuk itu, saat pemerintah berupaya menemukan formula untuk mengatasi Covid-19 dan dampak ekonominya, Agus meminta masyarakat dan seluruh elemen bangsa disiplin dalam mematuhi protokol pencegahan Covid-19.
"Ketidakdisiplinan di banyak tempat yang awalnya dipresentasikan lebih baik, namun memunculkan dampak di luar yang kita inginkan. PSBB tidak berhasil karena tidak disiplin," ujarnya.
Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) telah melakukan beberapa langkah untuk mencegah lonjakan jumlah penderita Covid-19 di masa new normal. Pertama, menambah kapasistas ruang isolasi di 77 rumah sakit PKU Muhammadiyah yang menjadi rujukan penanganan penderita Covid-19.
Saat ini rumah sakit Muhammadiyah memiliki kapasitas 546 tempat tidur. Jumlah ini akan bertambah dua kali lipat jika ada lonjakan kasus.
Agus mencontohkan, RS PKU Sepanjang, Sidoarjo, menambah hingga 103 kamar tidur dan telah terisi 101 ranjang.
Saat ini PP Muhammadiyah juga menyusun program ketahanan pangan keluarga dan peningkatan kontribusi masyarakat di komunitas terkecil.
“Dalam dua minggu ke depan, program ini akan disampaikan detailnya," ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga mengajak masyarakat menghidupkan ekonomi di lingkungannya, terutama melalui pembelian produk UMKM. Dibutuhkan juga kesungguhan dan kerja kolektif untuk menyongsong normal baru, termasuk peran media massa.
"Media adalah bagian dari pilar demokrasi. Jadi negara yang demokrasinya bagus mesti ada media yang memiliki peran kuat dalam rangka mencerdaskan bangsa," tandasnya. (sky/tif) Editor : Editor News