WINDA ATIKA IRA P, Jogja, Radar Jogja
Sampah tali itu dibersihkan para relawan yang tergabung dalam Komunitas Garuk Sampah Jogja. Tanpa alat bahkan pengamanan yang memadai mereka rela “bertaruh nyawa”, membersihkan sampah tali secara cuma-cuma. "Kami lebih memikirkan keselamatan pengguna jalan di samping ikatan tali yang merusak estetika karena berada di gapura selamat datang," kata Penggerak Komunitas Garuk Sampah, Bekti Maulana Sabtu (2/5).
Pembersihan dilakukan dua tahap berjarak hanya sepekan. Tahap pertama baru bisa melepas tali yang melilit lima persen atau sekitar dua kilogram. Tahap kedua tali yang mengikat 100 persen bisa dihilangkan dan dilepas keseluruhan. Dari pembersihan dua tahap tersebut setara 20 kilogram yang berhasil dilepas. "Itu saja sudah cukup menguras tenaga," ujarnya.
Bagaimana tidak, para relawan ini harus bertahan di atas gapura selama lebih dari dua jam dengan peralatan seadanya. Mereka melepas satu persatu tali-tali tersebut. Sedangkan yang lain membantu mengumpulkannya di bawah. "Kesulitannya yang jelas ketika menjangkau titik konsentrasi tali," jelasnya.
Menurutnya, tali-tali yang melilit berada di ketinggian tiga meter dari trotoar. Mereka harus memanjat badan gapura yang mungkin usianya lebih tua. Tali yang terikat cukup kuat dan berbahan keras, ini juga menyulitkannya untuk melepaskan dari badan tiang. Alat-alat pun terbatas karena mereka hanya masyarakat sipil yang berinisiatif karena sudah bosan dengan pemandangan sampah-sampah bekas visual promosi yang tak kunjung dibersihkan. Kesulitan lain adalah saat mengevakuasi tali dari lokasi ke rumah salah satu relawan di Kotagede. "Kami juga membandingkan jumlah tali dengan sepeda motor," terangnya.
Relawan yang terlibat hanya delapan orang. Bukan karena sepi minat relawan untuk terlibat membersihkan. Melainkan giat pembersihan yang memang rutin dilakukan tiap Rabu, disepakati selama masa pandemi Covid-19 relawan yang terlibat tidak lebih dari 10 orang. Sesuai dengan anjuran physical distancing dari pemerintah. "Relawan pun kami seleksi supaya kegiatan lebih efektif bukan sekadar kumpul-kumpul," ucapnya.
Sebetulnya, targetnya ada dua membersihkan tiang-tiang lampu yang berada di sisi timur jalan dan sisi barat jalan. Namun baru terlaksana yang di sisi timur jalan. Karena mempertimbangkan keselamatan diri dan relawan yang terlibat. Tiang lampu PJU yang berada di sisi barat berdekatan dengan belasan jaringan kabel yang salah satunya merupakan jaringan listrik PLN. "Kami berharap ini bisa segera ditindak lanjuti Pemkot Jogja untuk segera membersihkan," harapnya.
Tiang-tiang yang dibersihkan ini sejatinya berada di perbatasan antara Kota Jogja dan Kabupaten Sleman. Namun menurutnya tiang lampu tersebut merupakan aset milik Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Hal tersebut diketahui pada kedua tiang terpasang stiker pendataan aset dari Pemkot Jogja.
Menurutnya, aksi yang dilakukan itu berangkat dari keresahan para relawan sejak empat tahun lalu. Yakni ketika bersepeda maupun melakukan aktivitas lain, mereka menemukan pemandangan serupa di beberapa ruas jalan. Mereka resah. Sebab, tidak ada tindakan yang dilakukan pemerintah dan cenderung dibiarkan apa adanya. Padahal jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin ketika ada hujan disertai angin kencang tiang-tiang ini dapat roboh karena menerima beban yang cukup berat. "Yang kami lakukan ini hanya sedikit upaya untuk meringankan, mendorong, memberikan semangat dan dukungan pemerintah,’’ tambahnya. (din) Editor : Editor Content