Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kauman Tak Ada Tarawih, Jogokariyan Tetap Selenggarakan

Editor News • Jumat, 24 April 2020 | 01:45 WIB
BERSIH-BERSIH MASJID: Petugas dari takmir Masjid Jogokariyan menyemprotkan disinfektan di seluurh area masjid setip hari, mengantisipasi korona. ( ISTIMEWA )
BERSIH-BERSIH MASJID: Petugas dari takmir Masjid Jogokariyan menyemprotkan disinfektan di seluurh area masjid setip hari, mengantisipasi korona. ( ISTIMEWA )
RADAR JOGJA - Ketua Takmir Masjid Gedhe Kauman Azman Latif memastikan tidak ada shalat tarawih berjamaah selama bulan Ramadan 1441 Hijriyah. Tujuannya untuk meminimalisir persebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Jamaah diminta untuk beribadah di kediamannya masing-masing.

Walau begitu masjid kagungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat ini tetap menggelar pengajian. Caranya dengan memanfaatkan radio dan pengeras suara. Semua itu untuk menerapkan physical distancing selama pandemik Covid-19.

"Nanti tidak ada, shalat tarawihnya di rumah masing-masing. Cuma pengajian pakai sound dan radio Saka FM. Disiarkan rutin sehari tiga kali, Subuh, jelang buka puasa dan setelah salat Isya," jelasnya, Kamis (23/4).

Azman memastikan kegiatan masjid selama bulan Ramadan tetap berlangsung. Hanya saja kegiatan yang sifatnya berkumpul ditiadakan sebagai wujud komitmen atas protokol kesehatan Covid-19.

Azman mencontohkan kegiatan seperti pengajian maupun tadarus. Kedua kegiatan ibadah ini tetap berlangsung dengan format penyelenggaraan berbeda.

"Bukan berati Masjid Gedhe Kauman tidak ada kegiatan, tapi berlangsung cuma yang sifatnya berkumpul itu yang tidak ada. Tadarus diselenggarakan lewat zoom, sudah dua kali uji coba. Bisa diikuti 100 peserta," katanya.

Kebijakan ini juga berdampak pada penyediaan takjil. Tradisi berbuka puasa berbeda dengan tahun sebelumnya. Pendistribusiannya langsung menyasar ke rumah-rumah warga.

"Takjilan kami sediakan 1.500 porsi yang sebagian besar akan kita distribusi langsung ke rumah warga," ujarnya.

Berbanding terbalik dengan Masjid Jogokariyan. Masjid yang terletak di Kecamatan Mantrijeron Kota Jogja tetap menyelenggarakan shalat tarawih berjamaah. Hanya saja ada protokol ketat bagi jamaah sebelum memasuki masjid.

Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Ustaz Muhammad Jazir memastikan protokol kesehatan berlaku ketat. Selain itu pengurus masjid juga melakukan penyesuaian atas penyelenggaraan ibadah. Mulai dari tanpa ceramah hingga pemilihan surat pendek.

Jazir menegaskan semua jamaah wajib menggunakan masker. Takmir tak segan memaksa pulang apabila jamaah tak melengkapi diri dengan masker. Selain itu wajib wudhu di masjid. 

"Kami masih melayani (salat Tarawih berjamaah) ya. Tetap ada imam tapi tanpa ceramah, bacaannya suratnya juga pendek-pendek. Safnya sudah diatur, ada garis sebagai pembatas jarak," jelasnya.

Pengurus takmir, lanjutnya, menerapkan saf terpisah bagi pendatang. Aturan ini juga berlaku untuk tempat wudhu dan toilet. Tujuannya untuk menjaga kesehatan jamaah dari persebaran Covid-19.

Pengaturan ini juga dilengkapi dengan kartu identitas jamaah. Seluruh jamaah asli Masjid Jogokariyan dibekali kartu tersebut. Pembagian kartu telah dilakukan sejak hari ini.

"Mulai hari ini kami bagi kartu identitas jamaah. Jadi kalau yang tidak punya kartu identitas jemaah adalah visitor. Karena kita kan tak tahu dia dari mana, kondisinya gimana," katanya.

Tradisi takjil buka puasa juga tetap berlangsung. Tetap mempertahankan budaya seperti tahun sebelumnya. Dalam sehari masjid ini bisa menyediakan 3.000 kotak makanan.

"Kalau biasanya kan piring terbang, ini sekarang boks. Bagi warga yang mau mengambil untuk berbuka puasa silakan, tapi kami anjurkan (takjil) dimakan di rumah," ujarnya.

Event tahunan Kampung Ramadhan Jogokariyan juga dievaluasi. Walau tetap terselenggara tapi dalam bentuk virtual. Tercatat hingga saat ini ada 250 pedagang yang sudah bergabung. Mulai dari menu matang maupun pangan setengah jadi.

"Jadi melalui WA grup khusus, dikelola khusus, mereka mendaftar di situ, sekarang sudah 250 yang ikut menjual. Jadi pesan online dan nanti diantar, karena hanya berlaku di kampung Jogokariyan sampai ke wilayah Mergangsan lah," katanya. (dwi/tif) Editor : Editor News
#Masjid Jogokariyan #tarawih #Masjid Gedhe Kauman #Covid-19 #ramadan 1441 H