Inilah yang dirasakan oleh para anggota Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Jogjakarta.
Tak ingin berpangku tangan, mereka memutar otak. Hingga terciptalah masker yang dikhususkan bagi penyandang tuna rungu. Salah satu penggagasnya adalah Dwi Rahayu Februarti, 41.
"Kalau pakai masker biasa itu susah karena harus dibuka setiap kali mau bicara. Karena untuk teman-teman tuli, bicara tidak hanya pakai gerak tangan tapi juga melihat gerak bibir," jelasnya ditemui di kediamannya, Dusun Gemawang RT 03 RW 44 Nomor 7 Desa Sinduadi, Mlati Kabupaten Sleman, Jumat (17/4).
Untuk memudahkan komunikasi dengan Radar Jogja, Rahayu turut didampingi Ragil Kristianti. Perempuan berusia 24 tahun ini menjadi penerjemah bahasa isyarat. Baik untuk setiap pertanyaan maupun jawaban yang terlontar.
Kembali ke masker, Rahayu memanfaatkan bahan yang ramah lingkungan. Berupa kombinasi lapisan kain katun dan mika bening. Pada sisi mika bening mampu menampilkan gerak bibir sang pemakai masker.
Untuk mewujudkan idenya, Rahayu terlebih dahulu mencari ide melalui internet. Hingga akhirnya dia temukan desain yang tepat. Secara detil dia pelajari teknik pemilihan bahan, memotong kain hingga menjahitnya jadi sebuah masker mika.
"Ide awal masker mika, coba coba sendiri sebelumnya sempat lihat di YouTube. Kalau tertutup total memang enggak pas untuk teman-teman tuli. Akhirnya buat yang sisi mulutnya transparan dan bisa dipakai teman tuli," katanya.
Ide kreatif ini mendapat respon baik dari rekan-rekannya. Terbukti sudah ada enam pihak yang memesan secara khusus kepada Rahayu. Sayangnya produksi dari masker mika ini belum bisa maksimal.
"Kalau sehari ini baru bisa lima masker tapi kalau enggak sibuk bisa 10 sampai 15 masker mika. Masih pakai dana pribadi juga," ujarnya.
Proses pembuatan bukan tanpa menemui kendala. Awalnya Rahayu harus memastikan kerangka masker mika. Agar tetap nyaman dipakai tapi juga memenuhi standar kesehatan. Selain itu juga agar bisa digunakan berulangkali.
Salah satunya adalah membuat model pertama sebagai contoh. Dia harus memastikan masker mika pas menempel pada kontur wajah. Lalu mika juga tidak menempel pada mulut pemakai maskernya.
"Awalnya bahan transparan nempel mulut jadi malah susah kalau untuk ngobrol. Diulang lagi dari nol sampai nemu yang masker mika sekarang," katanya.
Tak ingin menyimpan ide ini seorang diri, Rahayu siap berbagi ilmu. Kediamannya di Dusun Gemawang menjadi pusat pembelajaran. Diawali dari para anggota Gerkatin Jogjakarta lalu kepada penyandang tuna rungu yang tidak bergabung dalam komunitas.
"Terutama buat teman-teman dari Gerkatin agar ada inisiatif buat masker sendiri. Kalau mau kesini datang lalu belajar gratis. Mulai dari bikin pola, jahit nanti diajarin," ajaknya.
Salah satu yang fokus membuat masker mika adalah Muhammad Adil Wicaksono. Pemuda berusia 23 tahun ini terlihat antusias mengikuti semua tahapan. Mulai dari memotong kain, memotong lapisan mika dan membuat pola.
Pekerja swasta ini mengaku sangat terbantu dengan adanya masker mika. Komunikasi menjadi lebih mudah dan menyenanhkan. Ini karena dia tak harus membuka tutup masker saat sedang berkomunikasi.
"Saya sudah punya satu, ini sekarang belajar buat sendiri agar bisa bantu teman-teman tuli lainnya. Bagus maskernya karena bisa melihat gerak bibir, jadi komunikasi tidak terhambat. Kalau masker biasa itu ribet, jadi males ngobrol," katanya.
Wicaksono mengakui pembuatan masker mika tidaklah mudah. Terlebih pemuda ini memang tak memiliki basis menjahit. Alhasil dia harus mengawali proses pembuatan masker mika dari nol.
Satu hal lain yang dia suka dari masker mika adalah jangka waktu pemakaian. Masker kain ini bisa dipakai berulang kali. Untuk membersihkan cukup dengan dicuci dengan air dan sabun. Syaratnya adalah bahan baku harus kuat dan teknik penjahitan bagus.
"Masker bisa dicuci, tapi pemilihan bahan harus tebal kalau tidak cepat rusak. Kalau bolong malah tidak bisa mencegah penyebaran virus. Jadi bisa dipakai berulang kali. Tentu sangat membantu bagi kami," ujarnya. (dwi/tif) Editor : Editor News