Kepala Disperindag Kota Jogja, Yunianto Dwi Sutono mengatakan upaya pembatasan jam operasional tersebut untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Dari sebelumnya operasional tidak ada batas waktu, sekarang diberlakukan. "Semua pasar tutup pukul 13.00. Kecuali pasar Beringharjo sampai pukul 4 sore," kata Yunianto kemarin (10/4).
Yunianto menjelaskan, ada pengecualian terutama untuk pasar yang buka sesuai hari pasar. Seperti pasar legi Kotagede, jam operasional sampai pukul 10.00. Dan juga untuk pasar Giwangan yang merupakan pasar malam yang tidak diberlakukan pembatasan jam operasional. "Pasar Giwangan kan 24 jam, karena suplier. Cuma memang perlakuannya beda," ujarnya.
Pasar Giwangan akan dikondisikan dengan petugas ketenteraman dan ketertiban (trantib) yang diintensifkan untuk menjaga keluar masuk para pedagang, suplier, maupun distributor yang memang benar-benar mereka kenal. Ketika ditemukan pedagang, suplier, dan distributor asing maka ada larangan masuk. "Karena harus ada kejelasan dulu, kecuali warga kota," jelasnya.
Untuk pasar Kotagede sebagai pasar induk, suplier, dan distributor masuk juga ada pembatasannya. "(Pembatasan) bukan dengan jam tapi para pedagang yang keluar masuk ke sana," sambungnya.
Berkaitan dengan kebijakan ini, sudah dikomunikasikan dengan masing-masing lurah pasar dan paguyuban pedagang se-kota Jogja. "Ini sebagai bentuk tanggung jawab ketika pasar sudah sepi, tidak banyak pengunjung, sepakat untuk ditutup," tambahnya.
Sementara, Lurah Pasar Pasar Satwa dan Tanaman Hias (Pasty), Bakoh Tupon Langkir Hadi mengatakan sesuai koordinasi dengan paguyuban pedagang baik satwa, tanaman maupun ikan hias justru mereka menginginkan sebaliknya. "Semua ingin tetap buka sampai sore," katanya.
Semua pedagang tetap menginginkan operasional buka dan beraktivitas seperti biasa dari pukul 05.00-17.00. Meski dari sisi kunjungan menurun 50 persen dari biasanya sebelum pandemi. "Ada beberapa tenant yang buka di siang hari," ujarnya.
Meski demikan, pihak pengelola tetap memberikan edukasi agar selalu menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Setiap hari rutin dilakukan penyemprotan desinfektan di semua area pasty baik barat maupun timur. Protokol covid-19 juga telah disiapkan. Sebanyak sepuluh wastafel telah disediakan beserta kelengkapannya baik barat dan timur. "Kami malah akan tambah lagi dua wastafel, sepuluh wastafel di tenant kuliner malam juga bisa digunakan," tambahnya. Dia pun mendorong agar 408 pedagang di setiap zona atau kios ikut berperan menyemprot disinfektan dan mengenakan masker.
Berbeda dengan Lurah Pasar Prawirotaman Jogja, Suyadi mengatakan paguyuban pedagang siap menerapkan pembatasan jam operasional hingga pukul 13.00 dari biasanya buka jam 05.00-17.00. "Malah mereka minta untuk pembatasan. Karena menjaga kesehatan kalau makin sore makin loyo bisa rentan terjangkit," katanya yang menyebut tinggal menunggu surat keputusan dari dinas untuk pelaksanaan resminya.
Selama pandemi Covid-19, dia menyebut pedagang 100 persen masih aktif berjualan di pasar. Meski kunjungan pasar menurun 20 persen dari biasanya. Sebanyak 619 pedagang berjualan tetap menerapkan protokol Covid-19 yaitu mengenakan masker. Ketika ada transaksi jual beli maupun tidak. Disamping juga penyemprotan desinfektan dan menyediakan fasilitas cuci tangan. (wia/bah) Editor : Editor Content