SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman, Radar Jogja
Ide pertama pembuatan antiseptik berbahan dasar daun sirih telah dilakukan sejak 2019. Namun tujuan utama untuk menangani permasalahan masitis pada puting kambing. Dengan cara menyemprotkan antiseptik guna membunuh bakteri.
Memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti daun sirih, Ronny mengungkapkan daun sirih memiliki aktivitas antiseptik dan antibakteri yang umumnya disebabkan staphylococcus aurejs dan escherichia coli. “Produk yang dihasilkan bisa membunuh bakteri serta mencegah infeksi virus dengan menjaga kebersihan tangan,” kata Ronny di UGM, Selasa (10/3).
Ia mengaku, antiseptik dengan nama spray nanopolimer infusa daun sirih terbukti menghambat pertumbuhan bakteri daripada ekstrak yang tidak diformulasikan nanopartikel. Dikombinasikan dengan kitosan dan biopolimer yang didapatkan dari cangkang udang atau kepiting, mampu menjaga kebersihan sampai dua jam.
Formulasi dalam bentuk nanopartikel, dilakukan karena daun sirih hijau memiliki kelarutan yang relatif rendah dalam air. Dengan formulasi nanopartikel mampu meningkatkan sistem penghantaran obat dan kestabilan zat aktif dalam infusa daun sirih.
Karakteritik formula memiliki ukuran partikel 246,9 nm dengan efiesiensi penjerapan sebesar 23,36 persen. “Diameter zona hambat sediaan nanopolimer terhadap bakteri staphylococcus auerus dan escherichia coli sebesar 7,85 mm dan 9,61 mm,” kata Ronny.
Spray nanopolimer infusa daun sirih ini dibuat bebas alkohol. Hadirnya produk ini diharapkan dapat menjadi alternatif solusi dalam mengatasi kelangkaan dan mahalnya hand sanitizer di pasaran karena penyebaran virus korona.
Dijual dengan kisaran harga Rp 30 ribu untul 100 ml. “Harapannya produk spray nanopolimer infusa daun sirih ini bisa membantu masyarakat dalam menjaga kesehatan dan mengatasi langkanya antiseptik di pasaran,” harap Ronny. (laz)
Editor : Editor Content