JIHAN ARON VAHERA, Jogja, Radar Jogja
Halte bus Transjogja yang berada di Jalan Mayjend Sutoyo, Mantrijeron, Jogja beda dengan halte bus lainnya. Ya, karena halte bus Transjogja di sana dilengkapi dengan rak buku. Bisa dibaca para calon penumpang sambil menunggu kedatangan bus.
Itulah inovasi terbaru yang diluncurkan DPK Kota Jogja. Tetap dengan ciri khas Perpustakaan Kota Jogja yakni memberikan nama dengan akronim yang unik untuk setiap fasilitasnya. Kali ini diberi nama Faliha. Atau akronim dari fasilitas literasi di halte Transjogja.
Kepala DPK Kota Jogja Wahyu Hendratmoko mengatakan, fasilitas tersebut merupakan salah satu wujud nyata Kota Jogja sebagai kota budaya, kota pendidikan, dan kota pariwisata. "Faliha merupakan salah satu representasi hal tersebut dalam upaya peningkatan literasi masyarakat Kota Jogja," tuturnya, Selasa (9/3).
Masih bagian dari inovasi yang diluncurkan belum lama ini, seperti Pocahontas atau pojok baca di bawah pohon trotoar Kotabaru, lalu Kalisha atau koleksi majalah dan terbitan berkala di shelter kita, dan Casandra, yaitu pojok baca masyarakat daerah wilayah selatan Jogja.
Wahyu menjelaskan, hadirnya Fahila karena melihat halte bus Transjogja di depan Perpustakaan Alternatif Wilayah Selatan Jogjakarta (Pevita). Sebelumnya para calon penumpang harus menunggu 15-20 menit sebelum bus tiba. Dari pengamatan, rata-rata mereka bermain gadget. Buku bacaan yang disediakan berupa majalah dan tabloid. “Karena waktu bacanya juga tidak lama, kalau buku terlalu berat,” jelasnya.
Saat ini keberadaan Faliha baru terbatas di halte depan Pevita. Tapi, Wahyu tidak menutup kemungkinan akan mneghadirkan Faliha-Faliha lain di halte bus Transjogja lainnya. “Ya kami lihat responnya seperti apa,” katanya.
Kehadiran Faliha sendiri, lanjut mantan Kepala Bagian Protokol Pemkot Jogja itu, sekaligus sebagai upaya meningkatkan budaya literasi membaca di Kota Jogja. Dia mengaku, tahun ini akan dilakukan survei angka minat baca di Kota Jogja. Tapi diyakininya, angka literasi membaca di Kota Jogja lebih tinggi dari rerata nasional. “Mungkin malah dari Kota Jogja yang menyumbang angka literasi membaca tertinggi,” ujarnya.
Pernyataanya tersebut didasarkan pada tingkat kunjungan ke layanan fasilitas perpusatakaan di Kota Jogja. Dia mencontohkan, seperti di perpustakaan kota di Kotabaru, yang selalu ramai dikunjungi. Bahkan hingga larut malam. Salah satunya juga fasilitas layanan internet.
Pihaknya juga berkerja sama dengan berbagai pihak untuk menyediakan layanan pojok baca yang menyasar di berbagai tempat ruang publik kota. Seperti, Ocamanisa (Pojok Baca di Perguruan Taman Siswa), Doroti (Doa dan Iqro di Masjid untuk Peningkatan Literasi) di Masjid Diponegoro Komplek Balai Kota, Camelia (Pojok Baca di Gereja Mergangsan Untuk Meningkatkan Literasi). "Kini jumlah layanan pojok baca ada sebanyak 10 buah," ujar Wahyu.
Fasilitas itu disediakan, lanjut dia, sebagai wujud komitmen Pemkot Jogja menyediakan fasilitas publik yang bisa dinikmati semua kalangan. Dan semuanya disediakan gratis. “Tak perlu membayar dulu baru bisa menikmati fasilitas,” ungkapnya. (pra) Editor : Editor Content