Pensiun dari Pemain 2015, Mimpi Jadi Pelatih Profesional

Editor Content • Dipublikasikan Kamis, 5 Maret 2020 | 17:16 WIB
KREATIF: Mahasiswa UNY Nurhuda Ihram Faihan mengolah singkong menjadi kue sus, makanan kekinian. HUMAS UMY FOR RADAR JOGJA
KREATIF: Mahasiswa UNY Nurhuda Ihram Faihan mengolah singkong menjadi kue sus, makanan kekinian. HUMAS UMY FOR RADAR JOGJA
Sejak pensiun sebagai pemain sepak bola 2015 lalu, Nopendi tak bisa jauh-jauh dari dunia kulit bundar. Dalam beberapa tahun terakhir, eks bek sayap itu menukangi beberapa tim di level junior. Sosok berusia 33 tahun itu pun masih memiliki mimpi untuk menukangi tim profesional suatu saat nanti.

 

HERY KURNIAWAN, Bantul, Radar Jogja

 

RADAR JOGJA - Di tengah kesibukannya sebagai salah satu karyawan kontrak di Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) Kabupaten Bantul, Nopendi menyempatkan diri menemui Radar Jogja Rabu (4/3). Pria berpostur 175 cm itu menceritakan kesibukannya setelah pensiun sebagai pemain.

Selain menjalani hari-harinya sebagai karyawan, ia juga masih menyempatkan mendidik para pemain muda. Terutama di SSB dan PS Guntur yang tak jauh dari rumahnya di Tamantirto, Bantul. “Kalau rutinnya ya di SSB dan PS Guntur itu. Kan itu tim kampung saya," kata Nopendi.

Hari-hari Nopendi tak pernah jauh dari sepak bola. Suatu saat ia memiliki keinginan untuk menjadi pelatih di tim profesional. Namun, sepertinya hal itu masih belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat ini.

Menurut Nopendi, menjadi pelatih profesional membutuhkan kesungguhan dan fokus yang tinggi. Tidak bisa lagi membagi waktu dengan pekerjaan yang lain. “Sementara saya jalani begini dulu, kalau ada rezeki nanti insya Allah saya akan ikut lisensi pro,” ujarnya.

Secara fisik, Nopendi saat ini jauh berbeda dengan Nopendi delapan hingga 10 tahun lalu. Saat ini berat badannya sudah menyentuh angka 90 kilogram. Nopendi pun tak seramping dulu.

Kendati demikian, semangat Nopendi tak pernah menyerah. Terutama ketika membicarakan kariernya ketika masih aktif sebagai pemain dulu. Seperti diketahui, selama masih berakrier, sosok yang sempat identik dengan nomor punggung 5 itu pernah merasakan memperkuat Tim Nasional (Timnas) Indonesia.

Nopendi pernah merasakan mengenakan jersey berlambang garuda di dada pada tahun 2012 lalu. Kala itu ia bermain untuk Timnas di ajang Piala AFF di Malaysia.

Menurut Nopendi, pengalaman memperkuat Timnas sangat berharga dalam kariernya. Ia menjelaskan bagaimana mental bertandingnya meningkat jauh lebih baik setelah ia bermain untuk negara. “Ya, itu sangat berkesan sekali, penting juga buat karir saya,” kenangnya.

Namun, Nopendi juga menyadari ia seperti memperkuat Tim Nasional di waktu yang kurang tepat. Kala itu memang terjadi dualisme di tubuh PSSI, yakni kubu Indonesian Premier League (IPL) dan kubu Indonesian Super League (ISL).

IPL saat itu merupakan liga resmi yang diakui FIFA. Menariknya, klub-klub besar dengan para pemain bintang justru berada di kubu ISL. Jadilah, mayoritas pemain Timnas yang kala itu ditukangi Nil Maizar berasal dari IPL, termasuk Nopendi.

Ia sadar banyak pihak yang mengecilkan Timnas di mana ada dia di dalamnya. Namun ia memilih untuk tak ambil pusing. Yang paling penting sudah berusaha keras berbuat sesuatu untuk Timnas. “Ya, intinya saya tetap bangga bermain untuk Timnas. Itu kan impian semua pemain sebenarnya,” jelas Nopendi. (laz) Editor : Editor Content
Bantul