Koordinator Pelaksana Posko Pendampingan Psikologi Oneng Nawaningrum menjelaskan, untuk siswa lainnya yang menjadi korban susur sungai juga mendapatkan pantauan. Kunjungan rumah juga dilakukan kepada keluarga dan kerabat dekat korban kecelakaan. Sampai saat ini, telah ada 20 rumah atau keluarga yang mendapatkan pendampingan psikologi.
Selain home visit, ada dua posko psikologi yang telah disiapkan di Puskesmas Turi dan SMPN 1 Turi. Didukung 40 psikolog berpengalaman dan 40 relawan mahasiswa dari jurusan psikologi di berbagai universitas wilayah Jogjakarta.
“Pendampingan akan terus dilakukan satu minggu ke depan dan waktunya bisa saja bertambah atau lebih cepat selesai. Pantauan ini dilakukan untuk siswa, guru maupun keluarga yang membutuhkan bantuan. Karena tidak semua paham tentang apa yang saat ini dialami,” jelas Oneng di SMPN 1 Turi.
Ia mengaku saat ini memang banyak siswa dalam keadaan stabil. Yang mana siswa tidak memberikan gejala-gejala gangguan. Namun, assessment tetap dilakukan di masing-masing kelas dengan pendampingan dari tiga psikolog dan 10 relawan bantuan untuk setiap kelas.
Berbeda dengan kelas VII dan VIII yang sedang melakukan pemulihan, kelas IX tetap mengukuti proses belajar mengajar seperti biasanya. Untuk selanjutnya, pendampingan dan pemantauan kepada guru juga akan dilakukan. Mengingat nantinya tidak ada yang tahu reaksi siswa akan seperti apa. “Oleh sebab itu, pembekalan kemampuan dasar akan diberikan kepada guru untuk bisa memantau psikis siswa,” tambah Oneng.
Sementara itu, Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah DIJ Siti Urabayatun menuturkan, hal wajar jika siswa menunjukkan rasa empati dengan cara bersedih dan menangis saat melihat temannya yang menunjukkan gejala ganguan psikis. Namun bukan berarti siswa itu juga ikut terpapar. Pendampingan dilakukan secara tergabung. Hal ini agar siswa yang memilili gejala mudah membaur kembali dengan temanya untuk proses pemulihan.
Khusus hari Senin (24/2) kemarin, fokus tim psikologi adalah assessment awal siswa untuk mendata gejala gangguan psikis karena kejadian susur sungai. Untuk gejala psikis, bisa dilihat dari kecemasan, sedih dan rasa marah. Gejala yang sifatnya fisik bisa terjadi berupa rasa mual, serta bisa ditunjukkan dengan gejala perilaku seperti histeris dan berteriak.
Meskipun demikian, orang dengan gejala tersebut belum bisa dikatakan memiliki gangguan. Namun lebih kepada reaksi wajar saat orang-orang mengalami suatu masalah. “Oleh karena itu kami juga berkoordinasi dengan tim medis dari Dinkes dan akan kami pantau untuk mendapatkan perawatan psikologi secara intensif,” tuturnya.
Jika gejala yang ada tidak ditangani dalam kurun waktu enam bulan, dikhawatirkan akan mengarah kegangguan berat. Meskipun kondisi akan bertambah parah sesuai situasi yang ada, hal ini bisa berakibat pada kecemasan. Dan jika dibiarkan, bisa menjadi traumatic stress disorder.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 1 Turi Tutik Nurdiana mengaku akan mengikuti kebijakan dari Disdik Sleman dan tim psikologi yang ada. Yang mana siswa akan mengikuti proses pemulihan, dan kelas IX akan belajar seperti hari biasanya. (eno/laz) Editor : Editor Content