Sosok Ulama Langka Itu Telah Pergi...

Editor Content • Dipublikasikan Sabtu, 4 Januari 2020 | 18:11 WIB
Photo
Photo
Radar Jogja - Masjid Gedhe Kauman kemarin siang dipadati warga yang akan melepas jenazah Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Yunahar Ilyas, 63. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini meninggal akibat gagal ginjal yang dideritanya di RS Sardjito Kamis (2/1) malam pukul 23.47.
Dari pantauan Radar Jogja, sebelum salat Jumat dimulai, ribuan warga sudah memadati bagian luar pagar higgga halaman parkir Masjid Gedhe. Selain warga Jogja, tidak sedikit warga dari luar daerah ikut melepas jenazah pria kelahiran Bukittinggi, 22 September 1956, ini.
Sebelum dibawa ke Masjid Gedhe, jenazah Yunahar Ilyas sempat disemayamkan di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro Jogja. Selanjutnya sekitar pukul 10.30 jenazah bapak empat anak ini dibawa ke Masjid Gedhe untuk disalatkan.
Selesai salat Jumat, dilanjutkan salat jenazah bersama. Kemudian jenazah diberangkatkan menuju pemakaman di Karagkajen, Jogja. Makam Karangkajen sendiri merupakan kompleks tempat dimakamkannya pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Upacara pemberangkatan dipimpin Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Natsir.
Haedar mengenang Yunahar sebagai sosok ulama langka. Ilmu ke Islamannya mendalam dan luas, terlebih ilmu tafsirnya. “Kalau beliau mengajar tafsir kita akan mendengar paparan tafsirnya tidak hanya bersifat tekstual. Melainkan kontekstual dengan realitas kehidupan. Sehingga yang diajarkan selalu menjadi obor semangat bagi umat,” katanya.
Dia mengaku telah berkawan dan berinteraksi dengan Yunahar sejak 1980. Yunahar merupakan rekan seperjuangannya saat bergabung di organisasi Muhammadiyah pada 1980-an. “Saya di Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Yunahar aktif di Ikatan Kader Muhammadiyah,” paparnya.
Menurutnya, ada banyak teladan yang bisa diambil dari sosok Yunahar. “Kepiawaiannya dalam bertabligh mudah dicerna umat, ramah dan mudah bersahabat, serta kehati-hatian dalam bersikap sehingga seksama dan bijaksana,” ungkapnya.
Dikatakan, Muhammadiyah sangat kehilangan figur ulama yang santun itu. Di tengah kesibukan dan perjuangannya melawan penyakit, Yunahar rutin berdakwah, mengajar tafsir di gedung PP Muhammadiyah Jogja dan Jakarta, serta dikenal ringan hati untuk memberi pengajian ke manapun.
Sementara itu, sejumlah tokoh dari Kabinet Presiden Joko Widodo, antara lain, Muhadjir Effendi, mengaku sempat menjenguk almarhum saat dirawat di RS PKU Muhammadiyah dan RSUP Dr Sardjito. Saat itu dirinya masih sempat berbincang dan memberikan masukan terhadap sejumlah hal.
Bagi Muhadjir, Yunahar merupakan sosok seorang guru. Yunahar selama ini menjadi rujukan dalam bertanya mengenai ilmu agama, termasuk ilmu bahasa Arab. “Kadang mengenai sebuah perkara yang abu-abu, saya juga bertanya kepada beliau, sebagai second opinion,” terangnya.
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Ma’arif menyebut Yunahar adalah sosok yang tangguh. Di tengah sakit yang melanda, almarhum seolah tak mengenal kata istirahat. “Meski sudah sakit masih sering ke mana-mana. Dia orang alim yang tidak pernah mau istirahat,” kenangnya.
Dikatakan, dia kerap kali menjenguk Yunahar. Diakui, kondisi kesehatannya sudah cukup memburuk. Akibat gagal ginjal yang diderita dan telah menyebar, kondisi fisik Yunahar semakin memburuk. “Paru-parunya kena, koma. Kita doakan saja agar husnul khatimah,” ujarnya.
Bagi Buya, panggilan Syafii Ma’arif, Yunahar merupakan sosok yang produktif dalam menulis buku. Selain itu, almarhum juga merupakan sosok yang cekatan dalam mengajarkan tafsir. “Saya rasa bukunya cukup banyak,” katanya.
Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sekaligus Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah Muchlas juga mengenang Yunahar sebagai sosok bijaksana, mengayomi, dan menenteramkan. “Selama hidupnya dikenal sebagai tokoh yang tidak membedakan umat, dengan keilmuannya yang mendalam,” jelasnya.
Muchlas telah bersahabat dan mengenal Yunahar selama 20 tahun terakhir. Bahkan Muchlas juga dilantik oleh Yunahar sebagai rektor UAD pada Oktober 2019. “Pelantikan menjadi saat-saat terakhir dengan almarhum. Waktu itu masih bisa makan bersama beliau. Setelah itu beliau dirawat di rumah sakit,” kenangnya. (bhn/cr16/laz) Editor : Editor Content
Masjid Gedhe Kauman Yunahar Ilyas