Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Melihat Nenek Moyang Memahami Angkasa

Editor Content • Selasa, 24 Desember 2019 | 18:35 WIB
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
RADAR JOGJA – Museum Negeri Sonobudoyo menampilkan puluhan koleksi peralatan dan catatan kuno mengenai etnoastronomi. Dalam pameran bertajuk “Angkasa Raya, Ruang, dan Waktu”.

Melalui pameran ini pengunjung disuguhkan tentang upaya nenek moyang dalam mempelajari pergerakan benda angkasa untuk membantu mereka mengukur waktu, memandu dalam kegiatan perburuan, hingga menentukan prinsip kepemimpinan.

Kepala Museum Negeri Sonobudoyo Setyawan Sahli menuturkan, pameran bercerita mengenai etnoastronomi masyarakat Nusantara. Khususnya di wilayah Jawa dan Bali. Yakni praktik memahami benda langit  yang telah dilakukan oleh manusia pada masa lalu melalui kearifan lokalnya. Jauh sebelum ilmu astronomi barat berkembang.

Misalnya, bagaimana nenek moyang menentukan sistem penanggalan dengan mengamati gerak objek angkasa seperti matahari, bintang dan bulan. Hingga kemudian muncul siklus penanggalan yang beragam. “Kami memiliki tanggung jawab mengedukasi masyarakat dengan memperlihatkan koleksi,” jelasnya Senin (23/12).

Salah satu koleksi yang menyerap perhatian pengunjunga adalah miniatur perahu Mayang. Yakni jenis perahu nelayan yang kerap ditemui di pesesir utara Pantai Jawa dan Madura. Nama Mayang berasal dari alat penangkap ikan yang digunakan yaitu payang. Layar perahu biasanya berbentuk trapesium. Untuk mendukung visualisasi terdapat proyektor yang menampilkan pergerakan benda langit.

Salah satu pengunjung asal Magelang Ardian Rahmat (28) mengaku terkesan dengan koleksi dalam pameran ini. Sebab, dia bisa memperoleh banyak informasi melalui beragam koleksi tersebut. “Baru pertama kali ada pameran yang bawa tema seperti ini, di tempat saya juga jarang ada seperti ini” jelasnya.

Namun dia menyayangkan ada beberapa koleksi yang tidak boleh disentuh. “Biar ada sensasi atau pengalaman berbeda saja kalau boleh pegang. Ya mungkin untuk kemanan juga,” tuturnya. Pameran ini berlangsung hingga 10 Februari mendatang. (cr16/pra)

. Editor : Editor Content
#Museum Negeri Sonobudoyo #Jogja