Pihak rumah sakit menduga, para pasien menderita keracunan. Namun, dokter belum bisa memastikan penyebab keracunan. Apakah dari makanan atau hal lain.
Berdasar informasi dari para korban, mereka mengalami gatal yang disusul pusing, panas, kemudian muntah dan sesak di ulu hati setelah makan siang sekitar pukul 12.30. Menunya nasi, sayur pepaya dengan lauk ikan tongkol. “Setelah makan belum terasa. Satu jam setelah makan, baru terasa mual dan muntah,” kata Eva Dermita, 34, seorang karyawan.
Tak semua karyawan yang menyantap menu serupa langsung mengalami gejala keracunan. Ada yang lebih dari satu jam baru mengalami gejala. Sebagian mengeluh saat sudah kembali bekerja.
Eva mengaku sempat curiga dengan rasa makanan yang dia santap. Terutama pada ikan tongkol. Bedanya ketika disantap sudah ada rasa gatal di mulut. Bau ikan pun menurutnya anyir. “Tapi karena sudah lapar, tetap dimakan karena tidak ada ikan lain. Mungkin karena dibungkus atau gimana, tetap kami makan,” terangnya.
Karyawan yang menderita mual dan muntah segera dilarikan ke rumah sakit tersebut yang berjarak sekitar 6 km dari pabrik. Pihak rumah sakit mencatat setidaknya ada 105 pasien yang ditangani.
Jumlah tersebut dihitung hingga pukul 16.00. Namun masih ada pasien lain yang berobat. Jumlah pasien sangat mungkin bertambah, mengingat saat gejala keracunan muncul berbeda setiap orang.
Direktur RS Panti Nugroho dr Tandean AW mengatakan, pasien mulai berdatangan sejak pukul 13.30. Dia juga membenarkan para pasien berdatangan secara bergelombang. “Keluhannya mual, muntah, dan pusing,” katanya.
Sesuai prosedur, lanjut Tandean, dokter menangani pasien dengan obat, sesuai keluhan. Hingga pukul 16.00, dia menjelaskan ada 101 orang yang dinyatakan sudah membaik dan diperbolehkan pulang. Kemudian dua orang diobservasi dan dua orang lagi yang masuk untuk segera ditangani. “Semua kami tangani dan kami beri obat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman dr Novita Krisnaeni mengaku belum bisa memastikan penyebab keracunan. Belum diketahui penyebab gejala keracunan itu karena untuk memastikan dibutuhkan uji lanjutan.
Novita menuturkan, ada tiga katering yang melayani ribuan karyawan perusahaan gartmen itu. Sehingga belum diketahui dari katering mana yang menyebabkan para karyawan keracunan. “Jadi tunggu hasil labnya dulu,” jelasnya.
Pihaknya mengambil sampel nasi, kerupuk, sayur, dan lauk berupa tongkol dan lele serta buah yang dikonsumsi para karyawan. Hasil tes yang dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan itu baru bisa diketahui sepekan ke depan. “Kami juga mengambil sampel air yang memungkinkan kontak dengan para penderita,” jelasnya.
Dari catatan Radar Jogja, kejadian ini bukan kali pertama. Tahun 2004 tepatnya Rabu, 18 Februari 2004, sedikitnya 170 karyawan pabrik garmen itu juga mengalami keracunan. Penyebabnya dari jatah makan siang berupa nasi dan sayur kacang panjang dengan lauk ikan asin. Kemudian 2015 tepatnya 21 Januari, kasus keracunan kembali terjadi setelah menyantap nasi pecel.
Novita mengamini hal itu. Pihaknya juga sudah beberapa kali memberikan masukan saat kejadian keracunan pada 2015. Namun dia belum bisa memastikan katering ini, apakah katering yang sama seperti saat kejadian 2015. “Pihak perusahaan sebenarnya sudah punya persyaratan, dan dari klaim perusahaan katering sudah sesuai persyaratan,” ujarnya.
Dia juga belum bisa memastikan apakah katering yang dipakai oleh perusahaan itu sudah berizin atau belum. Kendati demikian dia menyarankan agar setiap katering memiliki izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT). “Karena yang punya PIRT sudah ada penyuluhan dan ditinjau lokasinya,” ujarnya. (har/laz)
Editor : Editor Content