Ketua Pelaksana Penelitian Muhammad Bagaskoro mengatakan, tambang batu andesit di Kulonprogo memanfaatkan batu alam menjadi produk yang disiapkan untuk keperluan bahan bangunan. Penambangan andesit melalui beragam proses yang benar-benar kompleks. Mulai dari bahan baku, memotong hingga finishing.
Namun dalam proses penambangan batu andesit menyebabkan air sungai keruh dan menurunkan kadar DO air sungai. “Sedangkan untuk lahan yang terkena dampak sedimentasi akibat limbah pemotongan batu andesit kadar c-organiknya lebih rendah dibandingkan lahan yang tidak terkena dampak,” jelasnya di Kampus ITNY di Jalan Babarsari, Depok, Sleman, Jumat (21/6).
Bagas menuturkan, variabel yang diteliti yaitu format batuan, WPR, Pola rung dan kemiringan lereng. Hasil akhir dari penelitian ini yaitu peta analisis kerusakan pada IUP Kecamatan Pengasih Kulonprogo. “Selain itu terindentifikasi kategori jenis kerusakan tersebut,” ujarnya.
Dosen Pembimbing AA Arie Inung Adnyano ST MT menjelaskan, lingkungan yang mengalami kerusakan berdasarkan penelitian ini diharapkan untuk dapat segera dilakukan koreksi di bidang pengawasan terkait penambangan-penambangan yang ada. Utamanya di Kecamatan Pengasih. Agar penambangan tetap bisa dilaksanakan akan tetapi dengan menjunjung tinggi asas lingkungan. Sebagaimana Surat Keputusan Gubernur DIY No 63 Tahun 2003.
Warek III Bidang Kemahasiswaan ITNY Dr Hill G Hartono mengatakan, penelitian dilaksanakan melalui pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemenristekdikti dan ITNY. Institusi mendukung penuh kegiatan yang dilakukan. Apalagi analisis kerusakan ini menjadi perhatian banyak pihak baik masyarakat umum, perusahaaan tambang maupun pemerintah.
Gagasan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia dan menjadi perhatian publik ketika usaha tambang berkontribusi bagi devisa Negara. “Tapi tidak lupa juga harus memperhatikan dampak sehingga ada usaha meminimalisir dampak tersebut bagi lingkungan sekitar tambang,” tandasnya. (a11/din/er) Editor : Editor News