Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Seluruh Isi Tarub Mengandung Filosofi

Administrator • Kamis, 3 Januari 2019 | 17:05 WIB
SALAH SATU SYARAT: Pemasangan tarub di salah satu sudut kompleks Kepatihan Puro Pakualaman. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
SALAH SATU SYARAT: Pemasangan tarub di salah satu sudut kompleks Kepatihan Puro Pakualaman. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
JOGJA - Berbagai persiapan dilakukan Puro Pakualaman menjelang perhelatan dhaup ageng. Rabu (2/1) Puro Pakualaman menggelar prosesi majang dan tarub. Itu untuk menunjukkan bahwa Puro Pakualaman bakal menggelar hajatan.

”Tarub merupakan hal yang biasa, seperti masyarakat umum bila ada hajatan. Bedanya kita pasang di beberapa titik lebih banyak, karena memang lokasinya berbeda-beda,” kata Ketua Umum Panitia Dhaup Ageng KPH Indrokusumo di Bangsal Sewotomo.

Ya, tarub dipasang di enam titik. Seluruhnya di kompleks Puro Pakualaman. Namun, seluruh komponen tarub ini didoakan sebelumnya. Dalam prosesi kenduri. Tujuannya agar seluruh prosesi dhaup ageng berjalan lancar.

”Kalau memang hujan ya mudah-mudahan tidak terlalu mengganggu prosesi. Karena memang sudah musimnya, tapi kami berharap semua lancar sampai selesai acara,” harapnya.

Pernikahan putra sulung KGPAA Paku Alam X BPH Kusumo Bimantoro dengan dr Maya Lakshita Noorya itu digelar Sabtu (5/1).

Tarub dari janur dan tuwuhan. Tuwuhan berupa tandun pisang, kelapa gading, bleketepe, padi, tebu dan beberapa daun pepohonan. Menurutnya, seluruh bahan prosesi tarub ini mengandung filosofi bagi Pura Pakualaman. Padi, misalnya, mengandung harapan agar sepasang suami-istri tidak kekurangan pangan. Lalu, tandun pisang sebagai ”doa” agar mereka memiliki banyak keluarga.

”Yang terpasang di tarub ini merupakan gambaran harapan pada calon pengantin,” ujarnya.

Seluruh tarub yang sudah lengkap, kata Indrokusumo, akan melewati prosesi Majang. Yaitu, dipasang di beberapa titik yang ditentukan. Yakni, di gerbang pintu kompleks Pura Pakualaman, gedung Kepatihan Pakualaman, kediaman calon pengantin putri di bagian dalam Bangsal Sewotomo, dan ruang Parang Karso. Juga bagian atas Bangsal Sewotomo.

Di sisi lain, para pedagang kaki lima yang sehari-hari berjualan di kompleks Puro Pakualaman memilih tutup tiga hari. Mulai 4 hingga 6 Januari.

Suparman, seorang pedagang mengatakan, hal itu sebagai rasa syukur dan bahagia para pedagang atas Dhaup Ageng.

”Semoga proses berjalan lancar dan aman,” harapnya. (aga/sky/zam)

  Editor : Administrator
#royal wedding #Puro Pakualaman #Dhaup Ageng