Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ada Lagu Terinspirasi Pasar Malam

Editor News • Senin, 15 Oktober 2018 | 19:55 WIB
OTENTIK: Warna musik dari Diar Sahudi selalu berbeda dan bisa dinikmati berbagai kalangan. Selain itu, juga disesuaikan dengan selera generasi milenial. (JAUH HARI WAWAN S/RADAR JOGJA)
OTENTIK: Warna musik dari Diar Sahudi selalu berbeda dan bisa dinikmati berbagai kalangan. Selain itu, juga disesuaikan dengan selera generasi milenial. (JAUH HARI WAWAN S/RADAR JOGJA)
Sudah 20 tahun musisi Diar Sahudi berkecimpung di dunia musik. Selama itu juga, sudah puluhan lagu juga tercipta dari talenta asal Dabo Singkep, Kepulauan Riau itu. Lagu-lagunya itu dikumpulkan dalam album Rediscovered.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

Revirside Pakem Sleman dipenuhi oleh berbagia kalangan yang dengan antusias menonton penampilan Diar Sahudi. Mereka mengikuti acara peluncuran album Rediscovered, yang merupakan kompilasi musik dan lagu yang dibuat pria kelahiran 2 April 1976 itu.

Tercatat, Diar mulai intens menulis lagu pada medio awal 1990-an. Bersama beberapa band dia mampu merilis beberapa album dan single. Lagu-lagu itu lahir ketika dia berkolaborasi bersama band Trasher, The Lonely Hearts Club Band, Dewalrus, Holybeer dkk dan Pemboeroe Tjinta. Banyaknya karya yang lahir dari Diar belum terangkum seluruhnya. Bahkan ada juga yang belum masuk ke dalam album-album sebelumnya. "Lalu muncul gagasan untuk menyatukannya dan merangkum ke dalam satu album," kata Diar dalam acara launching album Rediscovered Minggu (14/10).

Selain itu, lanjut Diar, Rediscovered juga bisa diartikan sebagai perjalanan. Yaitu perjalanan bermusik Diar Sahudi selama 20 tahun berkarya. "Ini album solo saya, karena biasanya sama band-band lain tapi kali ini dibikin solo," bebernya.

Menjadi spesial di album ini adalah proses rekamannya. Semua dilakukan secara live dengan proses latihan hanya selama dua minggu. Diakuinya keterbatasan waktu jadi kendala, hanya dua minggu latihan sebelum live recording. “Kurator sepertinya memilih lagu yang gampang dulu untuk dimasukkan ke album," ungkapnya.

Lagu The World is Made For Us Not to be Alone memiliki memori tersendiri bagi Diar. Dia menuturkan lahirnya lagu dari nostalgianya terhadap keberadaan pasar malam.

Nuansa dari pasar malam yang riuh rendah, ceria dan penuh cerita dibawa pada lagu itu. Sehingga, warna musik yang dihasilkan berbeda dengan sembilan lagu yang lain. Apalagi ditambah instrumen musik trombon yang mengajak untuk berjingkrak. "Memang lagu ini menjadi lagu yang paling beda karena mengingatkan saya akan masa kecil," jelasnya.

Pada album ini juga, Diar berkolaborasi dengan musisi ternama di DIJ. Sebut saja Jaka Prasetya, Toto Nugroho, Cipi Prasetya, Yudhi Swantoro, Kasinungan Hanggarjito, Hassanudin, Hary Gono, Danny Eriawan, Kiki Mirano, Calsey Tory, Bergas Iswara dan Tami Noviaridha. (pra/zl/mo2) Editor : Editor News
#the world is made for us not to be alone #Sleman #pasar malam #terinspirasi #revirside #lagu dari nostalgia #musisi #riau #Diar Sahudi #lagu