Sementara Daniel ditemukan tewas tergantung di dapur rumah Lasiyem. Informasi yang dihimpun Radar Jogja, Daniel diduga nekat bunuh diri karena merasa tidak kuat dengan hinaan dan perilaku istrinya. Hal itu merujuk pada selembar kertas yang ditemukan di tubuh Daniel. Surat tersebut menceritakan tentang permasalahan psikologis yang sedang dialami Daniel.
"Jasad pasutri tersebut ditemukan hampir bersamaan sekitar pukul 13.30," jelas Kapolsek Gamping Kompol Herwin Edi.
Menurutnya, lasiyem sempat bertemu Daniel beberapa saat sebelum pria 47 tahun itu ditemukan tewas oleh cucunya. Ketika itu Daniel meminta Lasiyem membukakan pintu rumahnya untuk menumpang istirahat.
"Dari keterangan Lasiyem, Daniel masuk ke dalam rumahnya dengan kondisi kotor tubuhnya. Ada bekas sisa muntahan makanan yang menempel di pakaiannya," lanjut Kapolsek.
Lasiyem pun sempat membuatkan teh hangat untuk Daniel. Namun, tak berapa lama cucu Lasiyem dikagetkan oleh jasad Daniel saat akan mengambil sesuatu di dapur. Mengetahui hal tersebut Lasiyem segera menghubungi tetangganya dan melapor ke Polsek Gamping.
Polisi lantas meminta dokter puskesmas setempat untuk memeriksa kondisi jasad Daniel dan istrinya. Tim Inafis Polres Sleman juga diterjunkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Daniel diduga bunuh diri berdasarkan keterangan dokter puskesmas setelah melihat tanda-tanda fisik lelaki paro baya itu. Sementara mengenai penyebab tewasnya Dwi Septi, Kapolres belum berani menyimpulkannya. "Yang jelas di bagian leher (Dwi Septi) ada luka jeratan," jelasnya.(riz/yog/ong) Editor : Administrator