Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pertanyakan Kenapa Baru Dilaporkan Sekarang

Editor News • Selasa, 14 Februari 2017 | 18:54 WIB
Photo
Photo
JOGJA - Saat-saat akhir jelang pencoblosan, salah seorang aparatur sipil negara (ASN) di Pemkot Jogja justru diadukan oleh Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPC PDIP Kota Jogja ke Panitia Pengawas (Panwas) Kota Jogja dan Penjabat Wali Kota Jogja Sulistiyo. Netralitas ASN itu dipertanyakan karena mengirimkan broadcast dukungan ke grup WhatsApp UPT Malioboro.

"Laporan kami karena ada dugaan keterlibatan oknum ASN setingkat kepala dinas yang tidak netral dengan mengirimkan broadcast dukungan ke grup WhatsApp UPT Malioboro," ujar Ketua Bapilu DPC PDIP Kota Jogja Antonius Fokki Ardiyanto kemarin (13/2). ASN yang dilaporkan ke Panwas Kota Jogja ini adalah Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Jogja Yunianto Dwisutono.

Laporan ke Panwas itu berbekal screenshoot postingan Yunianto ke grup WhatsApp UPT Malioboro. Dengan laporan itu, Fokki meminta Panwas segera menindaklanjutinya dengan menegakkan aturan yang berlaku. "Sesuai aturannya sudah jelas ASN harus netral, Panwas harus segera menindaklanjuti," ujarnya.

Terpisah, ketika ditemui di Balai Kota Jogja Yunianto mengaku sudah mengetahui adanya aduan dari Bapilu PDIP Kota Jogja. Bahkan dirinya juga sudah dipanggil Penjabat Wali Kota Jogja Sulistiyo yang juga dilapori oleh Bapilu DPC PDIP. Dirinya membantah jika dikatakan tidak netral dalam Pilwali kali ini. "Saya mohon maaf kalau membuat tidak nyaman, tapi jelas saya menolak kriminalisasi seperti ini," ujarnya.

Kriminalisasi yang dimaksudnya adalah tidak lengkapnya screenshoot yang dijadikan bukti. Yunianto mengakui memang mengirimkan broadcast tersebut ke grup WhatsApp UPT Malioboro pada Sabtu (4/2). Tapi selain memposting terkait paslon nomor urut dua, setelahnya dirinya juga memposting terkait paslon nomor satu dan diakhiri dengan imbauan supaya mencoblos pada 15 Februari nanti. "Yang saya kirim itu tiga postingan, tapi kenapa hanya satu screenshoot yang ditampilkan," ujarnya.

Postingan itu disebutnya sebagai upaya mengingatkan anggota grup yang terdiri dari petugas Jogoboro supaya tidak golput dan memilih pada Pilwali nanti. Untuk pilihan diserahkan ke masing-masing anggota grup, sehingga ia memposting dari dua paslon. "Bisa dicek postingan saya di admin," jelasnya.

Mantan kepala Taman Pintar ini juga mempertanyakan kenapa baru sekarang postingan itu dipermasalahkan. Menurutnya, percakapan di grup WhatsApp UPT Malioboro sebenarnya sangat padat, karena itu dirinya menilai ada pihak yang sengaja menyimpulkan screenshoot itu.

"Kalau memang ini masalah, mengapa baru dilaporkan sekarang. Kok tidak pada saat saya memposting. Ini kan hari tenang, justru menjadi bahaya," kata Yunianto. (pra/laz/mg2) Editor : Editor News
#ASN #panwas #alat peraga kampanye