Hingga kemarin (6/1) belum semua jaringan listrik selesai diperbaiki.
Supervisor Teknik PLN Rayon Sleman Adli Fauzi mengaku tak bisa memastikan estimasi waktu perbaikan jaringan listrik yang rusak. Ini karena menunggu suku cadang dari luar Jogjakarta.
"Kerusakan jaringan tergolong menengah ke atas atau berat. Setiap tiang yang roboh menyuplai dua hingga tujuh trafo. Setiap trafo menyuplai listrik ke 80 hingga 100 rumah. Prediksi kami ada sekitar 1.500 rumah yang terputus listriknya," ungkapnya kemarin.
Akibatnya, PLN Rayon Sleman menderita kerugian. Estimasi kerugian per hari, menurut Adli, antara Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Perhitungannya berdasarkan biaya perbaikan hingga jaringan listrik yang tidak terpakai.
Untuk perbaikan jaringan listrik, PLN menerjunkan sedikitnya 50 personel dari tim pelayanan teknik, rekanan, dan tim inspeksi. "Perbaikan hingga siang ini (kemarin) sudah mencapai 60 persen. Pohon tumbang dampak terbesar. Seperti tahun lalu, pohon tumbang sebagai penyebab tiang roboh mencapai 60-70 persen," katanya.
Sementara itu, Kepala Operasional Pos Klimatologi Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIJ Djoko Budiyono menuturkan hujan di Sleman, Kamis (5/1) tergolong lebat. Pantauan radar cuaca menunjukkan curah hujan berkisar 61 mm.
Curah hujan lebat ini disebabkan lipatan besar awan cumulonimbus (CB). Bahkan dalam beberapa kasus, awan ini menyebabkan hujan es akibat suhu puncak awan CB sangat rendah.
"Bisa di bawah nol derajat, sehingga wujud puncaknya dalam bentuk kristal-kristal es. Inilah yang jatuh bersama hujan yang disertai petir dan angin kencang," jelasnya kemarin.
Dikatakan, hujan disertai angin kencang terpantau berkecepatan 20 hingga 25 knot. Ini termasuk kategori kecepatan tinggi. Sehingga menyebabkan beberapa pohon keras di Kecamatan Mlati dan Seyegan tumbang. Djoko memperkirakan, potensi hujan sedang hingga lebat masih akan terjadi hingga tiga hari kedepan.
"Kondisi ini masih akan terjadi selama musim hujan. Terutama jika saat pagi atau siang terjadi cuaca panas. Suhu panas berpeluang membentuk awan CB. Karena itu perlu waspada jika pagi siang panas, namun tiba-tiba mendung tebal," tuturnya.
Adanya hujan es dibenarkan Sunarto, 63, warga Dusun Somorai, Margoagung, Seyegan. Hujan es sempat terjadi selama 10 menit dibarengi angin kencang. Besarnya butiran es seukuran ujung jari jempol tangan orang dewasa.
"Kondisinya waktu itu gelap sekali, angin bertiup kencang ke arah selatan. Saat itu listrik langsung mati, tidak ada korban jiwa hanya beberapa rumah warga rusak tertimpa pohon," kata ketua RT 5/RW 16 Somorai ini.(dwi/dya/yog/ong) Editor : Administrator